Ads-Banner Header

Tampilkan postingan dengan label Bina Marga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bina Marga. Tampilkan semua postingan

20 Mei 2013

Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) 2012 Bidang Pekerjaan Umum

Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) 2012 Bidang Pekerjaan Umum | Balitbang PU | Kementerian Pekerjaan Umum | 2012 | Bahasa Indonesia | 345 h | pdf | 15.2 MB | Pedoman ini merupakan pengembangan dari Panduan Analisis Harga Satuan (AHS) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum No. 008-1/BM./2010 edisi Desember 2010, Analisa Biaya Konstruksi (ABK) oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) Tahun 2008, dan Pedoman Analisa Harga Satuan (PAHS) oleh Puslitbang Sumber Daya Air.
Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) 2012 Bidang Pekerjaan Umum
Judul Buku
:
Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) 2012 Bidang Pekerjaan Umum
Penulis
:
Balitbang PU
Penerbit
:
Kementerian Pekerjaan Umum
Tahun
:
2012
Bahasa
:
Bahasa Indonesia
Halaman
:
345 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
15.2 MB
Pedoman ini merupakan pengembangan dari Panduan Analisis Harga Satuan (AHS) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum No. 008-1/BM./2010 edisi Desember 2010, Analisa Biaya Konstruksi (ABK) oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) Tahun 2008, dan Pedoman Analisa Harga Satuan (PAHS) oleh Puslitbang Sumber Daya Air.
Dalam pedoman ini terdiri atas beberapa pasal, yaitu:
Pasal 1 sampai dengan Pasal 5 menguraikan hal-hal yang bersifat umum dan persyaratan untuk proses menganalisis harga satuan. Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8, masing-masing menguraikan lingkup pekerjaan dan langkah-langkah proses untuk:
  • Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Sumber Daya Air.
  • Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bina Marga.
  • Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Cipta Karya.
Pedoman analisis harga satuan, menjelaskan prinsip-prinsip yang menjadi dasar dalam menganalisis harga satuan dasar upah, alat dan bahan, serta sebagai dasar untuk analisis harga satuan pekerjaan (AHSP). Harga satuan pekerjaan ini digunakan sebagai harga perkiraan sendiri (HPS) atau harga perkiraan perencana (HPP). Dalam pedoman ini diberikan beberapa contoh faktor konversi bahan, berat isi bahan, berat isi campuran, faktor kehilangan bahan, berat jenis bahan, dalam suatu rentang di LAMPIRAN A-Umum, serta beberapa contoh analisis harga satuan dalam lampiran lainnya.
Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknis 91-01 Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil dan telah dibahas dalam forum rapat konsensus yang diselenggarakan pada tanggal 13 November 2012 di Bandung, dengan melibatkan para narasumber, pakar dan lembaga terkait.
DAFTAR ISI

Daftar isi

Prakata

Pendahuluan

1   Ruang lingkup

2   Acuan normatif

3   Istilah dan definisi

4   Kegunaan dan struktur analisis harga satuan

5   Persyaratan

5.1   Umum

5.2   Harga satuan dasar (HSD)

5.3   Harga satuan pekerjaan (HSP)

5.4   Biaya umum dan keuntungan (overhead & profit)

5.5   Mobilisasi dan demobilisasi

6   Lingkup pekerjaan untuk AHSP Sumber Daya Air

6.1   Umum

6.2   Langkah perhitungan HSP

6.3   Perkiraan (estimasi) biaya pekerjaan

7   Lingkup pekerjaan untuk AHSP Bina Marga

7.1   Umum

7.2   Analisis harga satuan dasar (HSD)

7.3   Analisis harga satuan pekerjaan (HSP)

7.4   Biaya umum dan keuntungan

7.5   Mobilisasi

7.6   Estimasi biaya kegiatan (kegiatan pekerjaan)

8   Lingkup pekerjaan untuk AHSP Cipta Karya

8.1   Umum

8.2   Analisis harga satuan dasar (HSD)

8.3   Analisis harga satuan pekerjaan (HSP)

8.4   Estimasi biaya pekerjaan konstruksi

8.5   Biaya umum dan keuntungan

8.6   Mobilisasi dan demobilisasi

LAMPIRAN :

LAMPIRAN A (Umum) Faktor bahan dan campuran

LAMPIRAN SDA-A Koefisien komponen harga satuan pekerjaan sumber daya air

LAMPIRAN SDA-B BENDUNG

LAMPIRAN SDA-C JARINGAN IRIGASI

LAMPIRAN SDA-D PENGAMAN SUNGAI

LAMPIRAN SDA-E BENDUNGAN

LAMPIRAN SDA-F PENGAMAN PANTAI

LAMPIRAN SDA-G PENGENDALI MUARA

LAMPIRAN SDA-H Kumpulan contoh perhitungan analisa harga satuan pekerjaan

LAMPIRAN BM-A Contoh analisis volume bahan

LAMPIRAN BM-B Contoh Lembar Informasi Kegiatan Pekerjaan

LAMPIRAN BM-C Contoh tarif upah dan analisis HSD upah (tenaga) per jam, dan K3

LAMPIRAN BM-D Contoh harga perolehan alat dan analisis HSD alat (biaya sewa alat per jam)

LAMPIRAN BM-E Contoh harga bahan baku dan analisis HSD bahan dan bahan olahan

LAMPIRAN BM-F Contoh analisis harga satuan pekerjaan tanah (galian dan timbunan)

LAMPIRAN BM-G Contoh analisis harga satuan lapis pondai agregat Kelas A (LPAA)

LAMPIRAN BM-H Contoh analisis harga satuan perkerasan beton semen (per m3)

LAMPIRAN BM-I Contoh analisis harga satuan AC-WC (gradasi kasar/halus)

LAMPIRAN BM-J Analisis harga satuan pekerjaan beton

LAMPIRAN BM-K Contoh analisis harga satuan pekerjaan pengembalian kondisi dan pekerjaan minor

LAMPIRAN CK-A Contoh pengembangan level pekerjaan konstruksi dan pengkodean

LAMPIRAN CK-B Contoh pengisian formulir harga satuan pekerjaan (HSP) Cipta Karya

Password: civiliana.blogspot.com

15 Juni 2012

Manual Pemeriksaan Material / Bahan Jalan

Manual Pemeriksaan Material Bahan JalanManual Pemerikasaan Material/Bahan Jalan ini, merupakan seri dari Buku Manual Konstruksi dan Bangunan, yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Tahun 2009. Terdiri dari 4 (empat) buku, yaitu : Buku I : Pengujian Bahan Alam (No. 014/BM/2009); Buku II : Pengujian Produk Pabrikasi (No. 015/BM/2009); Buku III : Pengujian Produk Olahan (No. 016/BM/2009); dan Buku IV : Aspek-aspek Yang Menunjang Pengujian Dan Contoh Permasalahan Pada Pengujian (No. 017/BM/2009).
Dalam upaya penyediaan Standar, Pedoman dan Manual (SPM) yang dapat diterapkan dengan mudah di dalam pelaksaan di lapangan guna menunjang keberhasilan pembinaan di bidang jalan dan jembatan, maka Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, telah menyusun Manual Pemeriksaan Material Bahan Jalan, yang merupakan penjabaran dari SNI (Standar Nasional Indonesia). Manual ini disusun dengan memperhatikan masukan-masukan dari para narasumber yang ahli di bidang Material Bahan Jalan.

Manual Pemeriksaan Material Bahan Jalan ini terdiri dari 4 seri buku, yaitu :

  1. Pengujian Bahan Alam
    Berkaitan dengan Pengujian Air, Tanah, dan Agregat. Didalamnya diuraikan secara jelas tahapan-tahapan pelaksanaan pemeriksaannya.
    Lihat Daftar Isi
  2. Pengujian Produk Pabrikasi
    Berkaitan dengan pengujian bahan produk pabrikasi terhadap Aspal, Semen, dan Baja. Didalamnya diuraikan secara jelas mengenai tahapan-tahapan pelaksanaan pemeriksaannya.
    Lihat Daftar Isi
  3. Pengujian Produk Olahan
    Berkaitan dengan pengujian Campuran Beraspal dan Campuran Beton Semen. Didalamnya diuraikan secara jelas tahapan-tahapan pelaksanaan pemeriksaannya.
    Lihat Daftar Isi
  4. Aspek-aspek Yang Menunjang Pengujian dan Contoh Permasalahan Pada Pengujian
    Berkaitan dengan Penentuan Lokasi pengambilan contoh dari truk pengangkut, lapis perkerasan padat, contoh permasalahan pada pengujian serta persyaratan timbang untuk pengujian bahan lama.
    Lihat Daftar Isi
- Terima Kasih -

04 Juni 2012

Pedoman Perencanaan Dan Pelaksanaan Perkuatan Tanah Dengan Geosintetik

PEDOMAN KONSTRUKSI DAN BANGUNAN, No. 003/BM/2009: Perencanaan Dan Pelaksanaan Perkuatan Tanah Dengan Geosintetik | Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat Bina Teknik | 2009 | 178 h | pdf | 4.11 MB | Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Perkuatan Tanah dengan Geosintetik ini mencakup perkuatan timbunan di atas tanah lunak, lereng tanah yang diperkuat dinding tanah yang distabilisasi secara mekanis dengan menggunakan perkuatan geosintetik (geotekstil dan geogrid). Selain itu, pedoman ini juga memberikan penjelasan umum tentang geosintetik, persyaratan bahan timbunan, dan persyaratan geosintetik. Acuan utama pedoman ini adalah Geosynthetics Design and Construction Guidelines (Publication No. FHWA HI-95-038), Mechanically Stabilized Earth Walls and Reinforced Soil Slopes Design and Construction Guidelines (Publication No. FHWA-NHI-00-043) serta Konsep Pedoman Perkuatan dengan Geotekstil dan Geogrid hasil konsensus 15 November 2007 yang disusun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pekerjaan Umum.
Perencanaan Dan Pelaksanaan Perkuatan Tanah Dengan Geosintetik
Judul Dokumen
:
PEDOMAN KONSTRUKSI DAN BANGUNAN
No. 003/BM/2009
Perencanaan Dan Pelaksanaan Perkuatan Tanah Dengan Geosintetik
Penerbit
:
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat Bina Teknik
Tahun
:
2009
Halaman
:
178 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
4.11 MB
Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Perkuatan Tanah dengan Geosintetik ini mencakup perkuatan timbunan di atas tanah lunak, lereng tanah yang diperkuat dinding tanah yang distabilisasi secara mekanis dengan menggunakan perkuatan geosintetik (geotekstil dan geogrid). Selain itu, pedoman ini juga memberikan penjelasan umum tentang geosintetik, persyaratan bahan timbunan, dan persyaratan geosintetik.
Acuan utama pedoman ini adalah Geosynthetics Design and Construction Guidelines (Publication No. FHWA HI-95-038), Mechanically Stabilized Earth Walls and Reinforced Soil Slopes Design and Construction Guidelines (Publication No. FHWA-NHI-00-043) serta Konsep Pedoman Perkuatan dengan Geotekstil dan Geogrid hasil konsensus 15 November 2007 yang disusun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pekerjaan Umum.
DAFTAR ISI
Prakata
Daftar Isi
1
PENDAHULUAN
1.1
Ruang Lingkup Pedoman
1.2
Acuan Normatif
1.2.1
ISO dan Padanannya
1.2.2
Acuan Lainnya
1.3
Istilah dan Definisi
1.3.1
Dinding Penahan Tanah yang Distabilisasi Secara Mekanis
1.3.2
Geosintetik
1.3.3
Geotekstil
1.3.4
Geogrid
1.3.5
Inklusi
1.3.6
Lereng Tanah yang Diperkuat
1.3.7
Penutup Muka
1.3.8
Timbunan yang Ditahan
1.3.9
Timbunan yang Diperkuat
2
GEOSINTETIK
2.1
Klasifikasi Geosintetik
2.2
Identifikasi Geosintetik
2.3
Fungsi dan Aplikasi Geosintetik
2.4
Evaluasi Sifat-sifat Geosintetik untuk Perkuatan Tanah
2.5
Pendekatan Perencanaan
2.6
Spesifikasi
2.7
Daya Bertahan Geosintetik Saat Konstruksi
2.8
Ketentuan Penyambungan Geotekstil Dan Geogrid
2.8.1
Teknik Tumpang Tindih Sederhana (Simple Overlap Technique) untuk Geogrid Biaksial dan Geoteksil
2.8.2
Teknik Penjahitan untuk Geotekstil
2.8.3
Teknik Penyambungan untuk Geogrid Uniaksial
2.9
Kepedulian terhadap Lingkungan
3
PERKUATAN TIMBUNAN DI ATAS TANAH LUNAK
3.1
Pendahuluan
3.2
Fungsi dan Aplikasi Perkuatan Timbunan
3.3
Pemilihan Sifat-sifat Teknis
3.3.1
Tanah Timbunan
3.3.2
Sifat-sifat Elektrokimia
3.3.3
Sifat-sifat Geosintetik
3.3.4
Interaksi Tanah dan Geosintetik
3.3.5
Persyaratan Pengaliran Air
3.3.6
Kekakuan Geosintetik dan Kemampuan Kerja (Workability)
3.4
Perencanaan Perkuatan Timbunan di Atas Tanah Lunak
3.4.1
Pertimbangan Perencanaan
3.4.2
Prosedur Perencanaan Perkuatan Timbunan
3.5
Pertimbangan Biaya
3.6
Prosedur Pelaksanaan
3.6.1
Penyiapan Tanah Dasar
3.6.2
Prosedur Penempatan Geosintetik
3.6.3
Prosedur Penimbunan, Penghamparan dan Pemadatan
3.6.4
Pemantauan Konstruksi
3.7
Pengawasan Lapangan
3.8
Perkuatan Timbunan untuk Pelebaran Jalan
3.9
Perkuatan Timbunan yang Meliputi Daerah Luas
3.10
Contoh Spesifikasi
4
LERENG TANAH YANG DIPERKUAT
4.1
Pendahuluan
4.2
Fungsi dan Aplikasi Lereng Tanah yang Diperkuat
4.3
Pemilihan Sifat-sifat Teknis
4.3.1
Tanah Dasar
4.3.2
Tanah Timbunan yang Diperkuat
4.3.3
Tanah Timbunan yang Ditahan
4.3.4
Sifat-sifat Elektrokimia
4.3.5
Sifat-sifat Geosintetik
4.3.6
Interaksi tanah dan geosintetik
4.4
Perencanaan Lereng Tanah yang Diperkuat
4.4.1
Konsep Perencanaan
4.4.2
Prosedur Perencanaan Lereng Tanah yang Diperkuat
4.5
Contoh Spesifikasi
4.6
Pertimbangan biaya
4.7
Prosedur pelaksanaan
4.8
Pengawasan Lapangan
5
DINDING PENAHAN TANAH YANG DISTABILISASI SECARA MEKANIS
5.1
Pendahuluan
5.2
Fungsi dan Aplikasi Dinding MSE
5.3
Deskripsi Dinding MSE
5.3.1
Sistem Dinding MSE
5.3.2
Penutup Muka
5.4
Pemilihan Sifat-sifat Teknis
5.4.1
Tanah Dasar
5.4.2
Tanah Timbunan yang Diperkuat
5.4.3
Tanah Timbunan yang Ditahan
5.4.4
Sifat-sifat Elektrokimia
5.4.5
Sifat-sifat Geosintetik
5.4.6
Interaksi tanah dan geosintetik
5.5
Perencanaan Dinding MSE
5.5.1
Konsep Perencanaan
5.5.2
Prosedur Perencanaan Dinding MSE
5.6
Pertimbangan Biaya
5.7
Prosedur Pelaksanaan
5.8
Pengawasan Lapangan
-  Bibliografi
-  Daftar Istilah
-  Lampiran A: Deskripsi visual material geosintetik
-  Lampiran B: Contoh perencanaan timbunan yang diperkuat dengan geotekstil
-  Lampiran C: Contoh perencanaan lereng tanah yang diperkuat dengan geotekstil
-  Lampiran D: Contoh perencanaan lereng tanah yang diperkuat dengan geogrid
-  Lampiran E: Contoh perencanaan dinding tanah yang distabilisasi secara mekanis

19 Mei 2012

Panduan Geoteknik - Timbunan Jalan Pada Tanah Lunak

Seri Buku Panduan Geoteknik ini, terdiri dari 4 buku, yaitu : (1). Panduan Geoteknik 1 : Proses Pembentukan dan Sifat-sifat Dasar Tanah Lunak (2). Panduan Geoteknik 2: Penyelidikan Tanah Lunak - Desain & Pekerjaan Lapangan (3). Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak - Pengujian Laboratorium dan (4). Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi. Dirancang sebagai sebuah studi terhadap tanah lunak dan tanah lapukan tropis Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan panduan geoteknik dan kontruksi yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Diharapkan pula, dengan pengembangan sumber daya manusia dan peralatan yang tepat, dapat meningkatkan kemampuan penelitian dalam bidang geoteknik di Pusat Litbang Prasarana Transportasi. Proyek ini merupakan bagian dari kerangka penelitian pembangunan jalan di atas tanah lunak yang dimulai sejak permulaan tahun 1990.
Panduan Geoteknik-Timbunan Jalan pada Tanah Lunak
Panduan Geoteknik yang dibuat pada proyek Indonesian Geotechnical Materials and Construction (IGMC) ini dirancang sebagai sebuah studi terhadap tanah lunak dan tanah lapukan tropis Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan panduan geoteknik dan kontruksi yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Diharapkan pula, dengan pengembangan sumber daya manusia dan peralatan yang tepat, dapat meningkatkan kemampuan penelitian dalam bidang geoteknik di Pusat Litbang Prasarana Transportasi. Proyek ini merupakan bagian dari kerangka penelitian pembangunan jalan di atas tanah lunak yang dimulai sejak permulaan tahun 1990.
Pelapukan tanah yang terjadi pada kondisi tropis berbeda dengan yang terjadi pada daerah dengan iklim sedang, sehingga masing-masing tipe tanah dengan karakteristik yang berbeda tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda pula dalam mengatasi permasalahan konstruksi. Penerapan berbagai metode penanggulangan yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tidak akan selalu cocok untuk diterapkan pada tanah beriklim tropis. Oleh karenanya perlu dilakukan suatu evaluasi terhadap teknologi yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tersebut sebelum diterapkan di Indonesia dan untuk itu dikembangkan suatu teknologi yang lebih cocok melalui upaya-upaya penelitian setempat.
Penerapan langsung mekanika tanah dan batuan “klasik” yang dikembangkan di daerah beriklim sedang akan tidak serta merta cocok untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di daerah tropis. Sifat-sifat alami dari material bumi daerah tropis memerlukan pengujian dan analisis yang berbeda dengan material di daerah beriklim sedang. Prinsip yang sama berlaku untuk teknik desain dan konstruksi. Oleh karenanya dibutuhkan fasilitas penelitian yang khusus untuk melakukan penyelidikan, bila praktek-praktek desain dan konstruksi yang ada ingin ditingkatkan agar jalan yang dibangun di atas tanah lunak dapat memberikan tingkat paelayanan yang disyaratkan.
Program kegiatan ini dilaksanakan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi bersama Tim Konsultan. Proyek ini seluruhnya didanai oleh pinjaman Pemerintah Indonesia dari International Bank for Reconstruction and Development, Highway Sector Investment Programme 2, Loan Number 3712-IND.

Download Seri Panduan Geoteknik ( Timbunan Jalan pada Tanah Lunak )

1.Panduan Geoteknik 1
Proses Pembentukan dan Sifat-sifat Dasar Tanah Lunak
Ketentuan dan persyaratan dalam proses pembentukan dan sifat-sifat dasar tanah lunak.
Perbedaan tipe-tipe tanah lunak di Indonesia, membuat penilaian awal dimana tanah akan ditemukan, mengidentifikasi keberadaan tanah lunak.

(3,86 MB)
2.Panduan Geoteknik 2
Penyelidikan Tanah Lunak - Desain & Pekerjaan Lapangan
Ketentuan dan persyaratan dalam proses desain dan pekerjaan serta penyelidikan tanah lunak.
Penjelasan studi awal untuk mengumpulkan informasi tanah, menentukan jenis penyelidikan lapangan dan pengujian laboratorium, persyaratan khusus untuk pelaksanaan pekerjaan tanah lunak, prosedur dalam perencanaan di tanah lunak.

(1,64 MB)
3.Panduan Geoteknik 3
Penyelidikan Tanah Lunak - Pengujian Laboratorium
Ketentuan dan persyaratan dalam pengujian laboratorium.
Ceklis untuk evaluasi kemampuan laboratorium pengujian geoteknik, faktor pengaruh dalam perencanaan, prosedur pengujian standar tanah, prosedur untuk mengurangi gangguan contoh tanah.

(2,68 MB)
4.Panduan Geoteknik 4
Desain dan Konstruksi
Persyaratan dan ketentuan dalam proses desain dan pelaksanaan konstruksi.
Metoda untuk menguji keabsahan data penyelidikan, proses pengambilan keputusan, metoda analisis stabilitas tanah, persyaratan dalam penyusunan laporan desain.

(2,33 MB)
Sumber :
NSPM Bintek Ditjen Bina Marga : http://www.bintek-nspm.net
- Terima Kasih -

02 April 2012

Spesifikasi Umum 2010 revisi (1) Tahun 2011 dan Spesifikasi Khusus 2012

spesifikasi umum 2010 revisi (1) tahun 2011 Nama Dokumen:Spesifikasi Umum 2010 revisi (1) Tahun 2011
Penerbit:KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
Direktorat Jenderal Bina Marga
Tahun:2012
Bahasa:Indonesia
Halaman:-
Format File:pdf
Ukuran File: -

06 Maret 2012

Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B

Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B, Nomor : 07/BM/2005 | Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga | 2005 | 180 h | pdf | 10.1 MB | Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B, diharapkan dapat memberikan petunjuk kepada para pelaksana dilapangan dalam menilai kualitas dari rangka baja yang mereka terima sehingga tidak menyalahi spesifikasi yang telah ditentukan. Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B, ini dibuat untuk mengurangi kesalahan yang timbul pada pelaksanaan konstruksi jembatan yang sering terjadi.
Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B
Judul Buku
:
Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B
Nomor : 07 / BM / 2005
Penerbit
:
Kementerian Pekerjaan Umum
Direktorat Jenderal Bina Marga
Tahun
:
2005
Halaman
:
180 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
10.1 MB
Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B ini dibuat untuk mengurangi kesalahan yang timbul pada pelaksanaan konstruksi jembatan yang sering terjadi.
Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B diharapkan dapat memberikan petunjuk kepada para pelaksana dilapangan dalam menilai kualitas dari rangka baja yang mereka terima sehingga tidak menyalahi spesifikasi yang telah ditentukan.
SemogaStandar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B ini bermanfaat bagi pelaksana konstruksi jembatan dan masukan maupun pengembangan pedoman ini masih diharapkan.

29 Februari 2012

Spesifikasi Khusus BINA MARGA

Judul Dokumen : Spesifikasi Khusus BINA MARGA
Penerbit : KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM


Direktorat Jenderal Bina Marga
Tahun : -
Format File : pdf, xls, doc
Jlh. Halaman : -
Ukuran File : -

24 Februari 2012

Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi

Timbunan Jalan pada Tanah Lunak, No : Pt T-10-2002-B (Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi) | Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah | 2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia) | 206 h | pdf | 2.33 MB | Panduan ini merumuskan: (a). Metode-metode yang harus diterapkan untuk menguji keabsahan data penyelidikan, (b). Prosedur untuk mendapatkan parameter-parameter, (c). Proses pengambilan keputusan dalam memilih teknik dan metode yang efektif dan memuaskan, (d). Metode-metode yang akan digunakan dalam menganalisis stabilitas dan prilaku penurunan jalan, (e). Persyaratan-persyaratan dalam penyusunan laporan desain, penyiapan kesimpulan-kesimpulan dan bagaimana kesimpulan tersebut dapat dicapai, (f). Ceklis untuk meyakinkan bahwa semua prosedur dalam Panduan ini telah dilaksanakan, (g). Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika rekomendasi-rekomendasi tidak dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah diberikan dalam Panduan ini.
Panduan Geoteknik 4 ( Desain dan Konstruksi )
Judul Dokumen
:
Timbunan Jalan pada Tanah Lunak
No : Pt T-10-2002-B
Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi
Penerbit
:
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Tahun
:
2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia)
Halaman
:
206 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
2.33 MB

Tujuan Dari Panduan Geoteknik 4

Panduan ini merumuskan:
  • Metode-metode yang harus diterapkan untuk menguji keabsahan data penyelidikan,
  • Prosedur untuk mendapatkan parameter-parameter,
  • Proses pengambilan keputusan dalam memilih teknik dan metode yang efektif dan memuaskan,
  • Metode-metode yang akan digunakan dalam menganalisis stabilitas dan prilaku penurunan jalan,
  • Persyaratan-persyaratan dalam penyusunan laporan desain, penyiapan kesimpulan-kesimpulan dan bagaimana kesimpulan tersebut dapat dicapai,
  • Ceklis untuk meyakinkan bahwa semua prosedur dalam Panduan ini telah dilaksanakan,
  • Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika rekomendasi-rekomendasi tidak dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah diberikan dalam Panduan ini.

Batasan Dari Panduan Geoteknik 4

Panduan Geoteknik ini memberikan informasi dan petunjuk dalam desain dan pelaksanaan konstruksi jalan di atas tanah lunak. Panduan ini mengidentifikasikan berbagai solusi yang mungkin untuk berbagai kondisi yang berbeda, serta mengemukakan secara umum kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karenanya, Panduan ini memberikan metodologi untuk memilih desain yang paling cocok, dan menjelaskan bagaimana caranya Ahli Geoteknik yang Ditunjuk mengembangkan dan mencatat proses pengambilan keputusannya.
Petunjuk yang diberikan pada Panduan ini juga harus digunakan untuk timbunan oprit jembatan.
Panduan ini tidak membahas masalah yang menyangkut struktur, kecuali beberapa aspek dari interaksi tanah-struktur (soil-structure interaction), atau masalah perkerasan jalan pada tanah lunak. Meskipun demikian, beberapa petunjuk yang diberikan pada Panduan ini dan seri lainnya mungkin akan dapat membantu untuk maksud tersebut.
DAFTAR ISI
Prakata
Daftar Isi
1
Pendahuluan Panduan Geoteknik 4
1.1
Batasan dari Panduan
1.2
Struktur Manajemen untuk Pekerjaan Geoteknik
1.3
Pendekatan terhadap Desain Pekerjaan Geoteknik
1.4
Permasalahan
1.5
Solusi atau Pemecahan Masalah
2
Pertimbangan Menyeluruh dalam Desain
2.1
Umum
3
Solusi dengan Pekerjaan Tanah
3.1
Pendahuluan
3.2
Penggantian Material
3.3
Berem Pratibobot
3.4
Penambahan Beban
3.5
Konstruksi Bertahap
3.6
Penggunaan Material Ringan
4
Solusi dengan Perbaikan Tanah
4.1
Pendahuluan
4.2
Penyalir Vertikal
4.3
Tiang
4.4
Matras
4.5
Metode Perbaikan Tanah Lainnya
5
Persiapan Desain
5.1
Interpretasi Geologi
5.2
Zonasi Lokasi
5.3
Pemilihan Parameter Geoteknik
5.4
Parameter Material Timbunan
5.5
Pembebanan dan Kriteria Desain
6
Solusi Desain dan Analisis
6.1
Pendahuluan
6.2
Stabilitas Timbunan
6.3
Penurunan pada Timbunan
6.4
Penyalir Horisontal
6.5
Penggantian
6.6
Berem Pratibobot
6.7
Penambahan Beban
6.8
Konstruksi Bertahap
6.9
Timbunan dengan Perkuatan
6.10
Matras Bertiang
6.11
Penyalir Vertikal
6.12
Desain Tiang
7
Interaksi Tanah dan Bangunan
8
Pertimbangan untuk Pelebaran Jalan
9
Proses Pengambilan Keputusan
9.1
Pengantar
9.2
Mengidentifikasi Masalah yang harus Dipecahkan
9.3
Mengidentifikasi Faktor-FAKTOR yang Akan Mempengaruhi Proses Pengambilan Keputusan
9.4
Pemilihan dan Analisis atas Berbagai Pilihan
9.5
Mengidentifikasi Biaya untuk Setiap Pilihan
9.6
Penetapan Pilihan Terbaik
9.7
Pelaporan Proses Pengambilan Keputusan dan Rekomendasi
10
Laporan Desain
11
Uji Coba
12
Kontrak dan Pelaksanan
12.1
Pengadaan Kontrak
12.2
Pelaksanaan
13
Pemantauan Lapangan
13.1
Merencanakan Program Pemantauan dan Instrumentasi
13.2
Desain Timbunan
13.3
Kondisi Lapisan Bawah Permukaan
13.4
Pra Analisis
13.5
Jumlah Instrumentasi
13.6
Lokasi Instrumen
13.7
Pemasangan
13.8
Perlindungan
13.9
Prosedur dan Frekuensi Pemantauan
13.10
Catatan Penimbunan
13.11
Pelat Penurunan
13.12
Instrumentasi Khusus
14
Referensi
Lampiran

19 Februari 2012

Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium

Timbunan Jalan pada Tanah Lunak, No: Pt T-8-2002-B (Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium) | Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah | 2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia) | 161 h | pdf | 2.68 MB | Panduan ini merumuskan: (a). Ceklis untuk mengevaluasi kemampuan laboratorium pengujian geoteknik dan kriteria pemilihan laboratorium, (b). Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan dan pengembangan program pengujian laboratorium, (c). Rangkuman prosedur pengujian standar terutama acuan pengujian lempung organik lunak dan gambut serta interpretasi hasil pengujiannya, (d). Prosedur untuk mengurangi sekecil mungkin gangguan pada contoh tanah selama penanganan dan penyiapan benda uji; interpretasi data pengujian untuk mengevaluasi kualitas contoh, (e). Prosedur untuk mengidentifikasi dan menjelaskan struktur dan fabrik tanah, (f). Persyaratan-persyaratan pelaporan.
Panduan Geoteknik 3 ( Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium )
Judul Dokumen
:
Timbunan Jalan pada Tanah Lunak
No : Pt M-01-2002-B
Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium
Penerbit
:
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Tahun
:
2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia)
Halaman
:
161 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
2.68 MB

Tujuan Dari Panduan Geoteknik 3

Panduan ini merumuskan:
  • Ceklis untuk mengevaluasi kemampuan laboratorium pengujian geoteknik dan kriteria pemilihan laboratorium,
  • Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan dan pengembangan program pengujian laboratorium,
  • Rangkuman prosedur pengujian standar terutama acuan pengujian lempung organik lunak dan gambut serta interpretasi hasil pengujiannya,
  • Prosedur untuk mengurangi sekecil mungkin gangguan pada contoh tanah selama penanganan dan penyiapan benda uji; interpretasi data pengujian untuk mengevaluasi kualitas contoh,
  • Prosedur untuk mengidentifikasi dan menjelaskan struktur dan fabrik tanah,
  • Persyaratan-persyaratan pelaporan.

Batasan Dari Panduan Geoteknik 3

Panduan Geoteknik 3 ini membahas tentang uji yang dilaksanakan di laboratorium untuk keperluan evaluasi terhadap stabilitas, daya dukung dan penurunan dari konstruksi jalan yang dibangun di atas tanah lunak. Dalam Panduan Geoteknik ini juga diuraikan mengenai lempung inorganik dan lempung organik, gambut, dan penekanan khusus diberikan untuk tindakan pencegahan yang harus diambil ketika melakukan pengujian terhadap lempung organik dan gambut serta interpretasi terhadap data yang dihasilkannya. Sedangkan uji untuk material timbunan yang dipadatkan (misalnya untuk mendapatkan nilai maksimum dari kepadatan kering, dan nilai CBR, tidak akan dibahas dalam panduan ini.
Supaya hasil uji laboratorium dapat digunakan, maka penting untukdiperhatikan bahwa laboratorium yang dipilih untuk melakukan uji tersebut harus memiliki kemampuan dan kapasitas yang diiginkan, khususnya dengan memperhatikan sistem pengendalian mutunya. Bab 2 dari Panduan Geoteknik ini menjelaskan secara detil prosedur yang harus ditempuh untuk menilai dan menentukan kelas atau tingkatan dari sebuah laboratorium, dilihat dari tingkat kemampuannya melakukan suatu pengujian.
Perencanaan penyelidikan tanah membutuhkan koordinasi dan kesatuan antara kegiatan lapangan dan laboratorium itu sendiri, dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan biaya seminimal mungkin. Bab 3 dari Panduan Geoteknik ini membahas tentang perencanaan program pengujian laboratorium dan pemeriksaan faktor-faktor yang mempengaruhi batasan dari program tersebut.
Dijelaskan pada Bab 4 dari Panduan Geoteknik ini, sistem yang digunakan untuk mengklasifikasi tanah organik dan inorganik berbutir halus serta gambut; jenis pengujian yang harus dilakukan untuk mengklasifikasikan tanah, dan untuk mendapatkan karakteristik kuat geser, kompresibilitas dan permeabilitasnya juga dijelaskan. Jenis tanah tersebut umumnya diuji dengan metode uji standar sebagaimana tercantum dalam Lampiran A. Adalah merupakan hal yang penting bagi seorang Ahli Geoteknik yang Ditunjuk untuk merumuskan secara jelas program pengujian yang akan dilakukan terhadap contoh tanah, serta parameter uji apa yang akan digunakan; sebuah contoh mengenai hal ini diberikan dalam bentuk sebuah prosedur.
Bab 5 dari Panduan Geoteknik ini menguraikan mengenai gangguan atau kerusakan yang terjadi pada contoh tanah, dan konsekuensi akan kemungkinan terjadinya penurunan kualitas yang terjadi di laboratorium selama proses penanganan contoh dan persiapan pengujian spesimen; tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk memperkecil gangguan yang timbul juga dibahas. Prosedur yang dikeluarkan oleh Masyarakat Internasional untuk Mekanikan Tanah dan Teknik Fondasi (International Society for Soil Mechanics and Foundation Engineering, ISSMFE, 1981) untuk mengevaluasi kualitas relatif dari sampel berdasarkan pada interpretasi dari hasil pengujian memberikan detil tahapan kegiatan yang harus dilakukan.
Bab 6 dari Panduan Geoteknik ini menguraikan fabrik dan struktur tanah. Prosedur ASTM menjelaskan secara detil bagaimana caranya mengidentifikasi tanah yang dapat digunakan baik untuk di lapangan maupun di laboratorium. Analisis terhadap makrofabrik tanah, dengan menggunakan metode yang diusulkan oleh Mc Gown dan Jarrett (1997a) juga dibahas, yang meliputi prosedur laboratorium untuk pemotretan dan pelaksanaan dari pemeriksaan makfrofabrik tersebut.
Bagian akhir dari Panduan Geoteknik ini membicarakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaporan hasil dari pengujian laboratorium tersebut.
DAFTAR ISI
Prakata
Daftar Isi
1
Pendahuluan Panduan Geoteknik 3
1.1
Batasan dari Panduan
2
Kriteria untuk Pemilihan Laboratorium
2.1
Pendahuluan
2.2
Akreditasi Laboratorium di Indonesia
2.3
Persyaratan Umum untuk Laboratorium Pengujian Tanah
2.4
Evaluasi Kemampuan Laboratorium Menurut ASTM D3740-92
2.4.1
Organisasi dari Laboratorium
2.4.2
Sumber Daya Manusia dari Laboratorium
2.4.3
Kualifikasi Personil
2.4.4
Verifikasi terhadap Kemampuan
2.4.5
Persyaratan Pengujian
2.4.6
Persyaratan Tambahan untuk Peralatan Pengujian
2.4.7
Persyaratan Sistem Mutu
2.4.8
Persyaratan Pencatatan dan Pelaporan
2.5
Kriteria untuk Mengevaluasi Laboratorium
2.5.1
Informasi Umum yang Dibutuhkan pada Tahap Awal dari Evaluasi Laboratorium
2.5.2
Pemeriksaan Fasilitas Laboratorium oleh Ahli Geoteknik yang Ditunjuk
2.6
Pemeringkatan Kemampuan Pengujian Laboratorium
2.7
Pengendalian Mutu
2.7.1
Urutan Penanganan Contoh Tanah
3
Perencanaan Program Pengujian Laboratorium
3.1
Pendahuluan
3.2
Pengembangan Program Pengujian Awal Laboratorium
4
Pengujian Laboratorium
4.1
Klasifikasi Tanah
4.1.1
Klasifikasi Lempung Organik dan Inorganik
4.1.2
Klasifikasi Gambut
4.2
Pengujian Indeks yang Dilakukan untuk Tujuan Klasifikasi dan Tujuan Lainnya
4.2.1
Kadar Air Asli
4.2.2
Pembagian Ukuran Butir
4.2.3
Berat Jenis
4.2.4
Kepadatan Curah
4.2.5
Bata-batas Konsistensi (Atterberg)
4.2.6
Uji Geser Baling Laboratorium
4.2.7
Kadar Organik Gambut dan Tanah Organik Lainnya
4.2.8
Kepadatan Curah Gambut
4.2.9
Kadar Serat Gambut
4.2.10
Ekstraksi Air Pori dan Pengukuran Salinitas
4.2.11
Konduktivitas
4.2.12
pH Bahan Gambut
4.2.13
pH Tanah
4.2.14
Kadar Karbonat
4.2.15
Kadar Klorida
4.2.16
Kadar Sulfat
4.3
Pengujian Kuat Geser
4.3.1
Uji Geser Langsung
4.3.2
Uji Tekan Triaksial
4.3.3
Diskusi mengenai Pengujian Laboratorium untuk Menentukan Kuat Geser Tanah Organik dan Gambut
4.4
Pengujian Konsolidasi
4.4.1
Uji Konsolidasi Satu Dimensi
4.4.2
Penentuan Sifat Konsolidasi Menggunakan Sel Hidrolik
4.4.3
Diskusi Mengenai Uji Laboratorium untuk Menentukan Karakteristik Konsolidasi Tanah Organik dan Gambut
4.5
Uji Permeabilitas
4.6
Spesifikasi Program dan Parameter Pengujian Laboratorium
4.6.1
Program Pengujian Laboratorium
4.6.2
Parameter Pengujian Laboratorium
4.7
Konsistensi Data
5
Kualitas dan Kerusakan Contoh Tanah
5.1
Pendahuluan
5.2
Prosedur Laboratorium untuk Memperkecil Gangguan Pada Tanah
5.2.1
Penyimpanan Contoh Tanah
5.2.2
Penanganan Contoh Tanah dan Persiapan Benda Uji untuk Pengujian
5.3
Evaluasi Terhadap Tingkat Gangguan Pada Contoh Tanah
5.3.1
Tegangan-Regangan Tak Terdrainase dan Prilaku Kuat Geser
5.3.2
Kurva Konsolidasi Satu Dimensi
5.3.3
Tegangan Efektif Residual
5.3.4
Penilaian Kualitas Contoh Tanah
6
Struktur dan Fabrik Tanah
6.1
Definisi 95
6.2
Pemeriaan dan Identifikasi Tanah
6.3
Prosedur Penampangan dan Analisis Fabrik
6.3.1
Identifikasi dan Klasifikasi dari Fitur Fabrik
6.3.2
Prosedur Laboratorium
7
Pelaporan
7.1
Persyaratan Khusus
7.2
Persyaratan Umum
7.3
Laporan Laboratorium
8
Referensi
Lampiran

Ads-Banner Side

10 Artikel Populer Minggu Ini :

Ads-Banner Side-2

 

Ads-Banner Footer