Ads-Banner Header

Tampilkan postingan dengan label Sistem Drainase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Drainase. Tampilkan semua postingan

17 Mei 2013

Materi Bidang Drainase : Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP Kementerian PU Thn 2011

Materi Bidang Drainase: Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP | Tim Penyunting | Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum | 2011 | Bahasa Indonesia | 325 h | pdf | 6.6 MB | Materi diseminasi keteknikan bidang drainase difokuskan untuk hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan operasi pemeliharaan prasarana dan sarana drainase perkotaan, meliputi: Dasar-dasar teknik dan manajemen sistem drainase perkotaan; Perencanaan, Master Plan dan Studi Kelayakan drainase perkotaan termasuk di dalamnya tata cara, tahap pekerjaan hingga detail perhitungan; Konstruksi dan pengelolaan sistem drainase perkotaan.
Materi Bidang Drainase Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP
Judul Buku
:
Materi Bidang Drainase
Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP
Penulis
:
Tim Penyunting
Penerbit
:
Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum
Tahun
:
2011
Bahasa
:
Bahasa Indonesia
Halaman
:
325 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
6.6 MB
Dalam rangka meningkatkan kompetensi para pelaku pembangunan bidang ke PLP an (Air Limbah, Sampah dan Drainase) di Indonesia guna memenuhi target Millenium Development Goals (MDGs), Rencana strategis PU serta peningkatan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan permukiman, diperlukan berbagai upaya strategis termasuk program bimbingan teknis “keteknikan bidang PLP”.
Bimbingan teknis berupa diseminasi dilaksanakan secara berjenjang untuk tingkat provinsi dan dilanjutkan untuk seluruh kabupaten/kota dengan tujuan penyamaan persepsi, pemahaman dan pengetahuan bidang ke PLP an secara lebih memadai sesuai dengan pola pengelolaan drainase perkotaan yang sesuai dengan UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Materi diseminasi keteknikan bidang drainase difokuskan untuk hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan operasi pemeliharaan prasarana dan sarana drainase perkotaan, meliputi:
  • Dasar-dasar teknik dan manajemen sistem drainase perkotaan;
  • Perencanaan, Master Plan dan Studi Kelayakan drainase perkotaan termasuk di dalamnya tata cara, tahap pekerjaan hingga detail perhitungan;
  • Konstruksi dan pengelolaan sistem drainase perkotaan.
Penyusunan materi drainase tersebut secara umum merupakan rangkuman materi dari berbagai sumber yang telah ada dan dilakukan atas kerjasama Direktorat Pengembangan PLP dengan Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS, serta Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah I – Bekasi dan Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah II – Surabaya. Namun demikian, disadari bahwa materi ini bersifat dinamis dan apa yang telah disusun masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kami senantiasa terbuka untuk berbagai masukan guna perbaikan lebih lanjut.
DAFTAR ISI MATERI

Dasar-dasar Teknik dan Manajemen

1.      Dasar –dasar Teknik dan Manajemen Drainase Perkotaan

Perencanaan, Master Plan dan Studi Kelayakan

2.a.   Proses Desain

2.b.   Tata Cara Pembuatan Rencana Induk Drainase Perkotaan

2.c.   Tata Cara Pembuatan Studi Kelayakan Drainase Perkotaan

2.d.   Tata Cara Pembuatan Detail Desain Drainase Perkotaan

3.a.   Analisa Hidrologi Terapan untuk Perencanaan Drainase Perkotaan

3.b.   Curah Hujan dan Jumlah Aliran Limpasan Hujan

3.c.   Metode Perkiraan Banjir DAS

4.a.   Analisa Hidraulika Terapan untuk Perencanaan Drainase Perkotaan

4.b.   Hidraulika Jalur Air di Jembatan dan Hal-hal Khusus Lainnya

5.      Analisa Struktur Bangunan Air

6.      Aspek Praktis dari Desain Drainase

7.      Gambar Teknis Perencanaan

Konstruksi dan Pengelolaan

8.      Pelaksanaan Pembangunan Drainase Perkotaan, Clean Contruction

9.a.   Operasi dan Pemeliharaan Sistem Drainase Perkotaan

9.b.   Tata cara penyusunan biaya operasi dan Pemeliharaan Drainase

10.a. Ecodrain

10.b. Gejala Pasang dan Drainase di Daerah Rendah

10.c. Sistem Pemompaan Banjir

Studi Kasus

12 Juli 2012

Sumur Resapan Kolektif dan Sumur Resapan Terpadu dengan Pertanian untuk Daerah Pedesaan

[civiliana] - Sumur resapan untuk daerah pedesaan dapat berupa Sumur Resapan Individual untuk Daerah Pedesaan, Sumur Resapan Kolektif dan Sumur Resapan Terpadu dengan Pertanian untuk Daerah Pedesaan. Dimana Sumur Resapan Individual untuk Daerah Pedesaan, terdiri dari Sumur Resapan dari Bambu, Sumur Resapan dengan Lubang Kerikil (sudah diuraikan pada tulisan terdahulu), sedang Sumur Resapan Pedesaan Kolektif yang terdiri dari, Cek Dam Sederhana dan Kolam Resapan di Hutan Lindung atau Hutan Desa dan Sumur Resapan Pedesaan Terpadu dengan Pertanian berupa Guludan Bersekat, Guludan Berorak dan Parit Bedengan Bersekat, (akan diuraikan dalam tulisan ini).
Konversi lahan pertanian
Konversi lahan pertanian, Menyebabkan berkurangnya area resapan air di kawasan pedesaan.
[civiliana] - Sumur resapan untuk daerah pedesaan dapat berupa Sumur Resapan Individual untuk Daerah Pedesaan, Sumur Resapan Kolektif dan Sumur Resapan Terpadu dengan Pertanian untuk Daerah Pedesaan. Dimana Sumur Resapan Individual untuk Daerah Pedesaan, terdiri dari Sumur Resapan dari Bambu, Sumur Resapan dengan Lubang Kerikil (sudah diuraikan pada tulisan terdahulu), sedang Sumur Resapan Pedesaan Kolektif yang terdiri dari, Cek Dam Sederhana dan Kolam Resapan di Hutan Lindung atau Hutan Desa dan Sumur Resapan Pedesaan Terpadu dengan Pertanian berupa Guludan Bersekat, Guludan Berorak dan Parit Bedengan Bersekat, (akan diuraikan dalam tulisan ini).
Sumur Resapan Pedesaan Kolektif
  1. Cek Dam Sederhana
Sistem cek dam sederhana dilakukan dengan cara membendung lembah dengan tanah. Sistem tersebut dapat juga dimanfaatkan untuk persedian air permukaan pada musim kemarau. Cara ini banyak dikembangkan di daerah Nusa Tenggara yang memiliki musim kering dan lahan yang bergelombang.
Kolam resapan kolektif dengan membendung lembah
Gambar 1.  Kolam resapan kolektif dengan membendung lembah.
Cara ini cocok diterapkan pada lahan-lahan yang bergelombang, memiliki lembah-lembah yang dalam, dan mudah untuk dibendung serta air dari pemukiman dapat disalurkan ke lembah yang akan dibendung.
Bendungan dibuat dari tanah yang terlebih dahulu dibuat tumpukan balok kayu yang tidak mudah lapuk, seperti ulin, pohon kelapa, pohon enau, atau jati, dan dipatok dengan patok kayu yang dapat tumbuh berakar dan bertunas, seperti bambu haur, galam, angsana, gamal, atau dadap.
Konstruksi bendungan sederhana
Gambar 2.  Konstruksi bendungan sederhana.
Agar air hujan dapat masuk ke dalam kolam resapan, maka dari pemukiman atau lahan lainnya dibuat parit-parit yang mengarah ke kolam resapan. Dengan demikian, air hujan dapat terkumpul dalam kolam dan dapat meresap ke dalam tanah.
  1. Kolam Resapan di Hutan Lindung atau Hutan Desa
Untuk daerah-daerah datar, dapat dibuat kolam resapan di lokasi yang rendah tempat air mengalir dan berkumpul. Model sumur resapan ini dapat dibuat di lahan fasilitas umum atau di hutan lindung yang sekaligus dapat dikembangkan dengan konsep hutan desa.
Kolam resapan kolektif berpadu dengan hutan lindung desa
Gambar 3.  Kolam resapan kolektif berpadu dengan hutan lindung desa
Dinding kolam resapan dapat diberi dinding dari ayaman bambu atau dengan patok-patok bambu (bambu haur atau bambu kuning) yang dapat tumbuh. Model dari kolam resapan dapat dilihat pada Gambar 3.
Sumur Resapan Pedesaan Terpadu dengan Pertanian
Sumur resapan air hujan untuk pedesaan dapat pula dipadukan dengan sistem usaha tani dengan menerapkan konsep usaha tani konservasi. Sistem ini relatif mudah serta tidak perlu mengeluarkan dana dan tenaga secara khusus.
Penerapan sistem ini disamping sebagai upaya konservasi air tanah dan pencegahan banjir, juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan menekan laju erosi. Adapun model sumur resapan yang dipadukan dengan usaha tani, yaitu guludan bersekat, guludan berorak, dan parit bedengan bersekat.
  1. Guludan Bersekat
Guludan bersekat dibuat dengan cara meninggikan tanah membentuk guludan yang tingginya 30-50 cm dengan arah guludan memotong lereng. Pada parit-parit, guludan tersebut dibuat sekat-sekat dari guludan tanah kecil. Guludan utama ditanami tanaman produktif. Dengan cara demikian air hujan akan tertahan dalam lembah-lembah guludan yang akhirnya dapat meresap ke dalam tanah. Model dari guludan bersekat dapat dilihat pada Gambar 4.
Model guludan bersekat sebagai sumur resapan
Gambar 4.  Model guludan bersekat sebagai sumur resapan.
  1. Guludan Berorak
Guludan berorak prinsipnya sama dengan guludan bersekat. Cara pembuatannya sama dengan guludan yang memotong lereng, ketinggian guludan antara 30-50 cm. Pada Iembah, di antara guludan dibuat galian berupa rorak-rorak yang ukuranya 30-50 cm serta jarak antara lubang 5-10 m. Model dari guludan berorak dapat dilihat pada Gambar 5.
Model guludan berorak sebagai sumur resapan
Gambar 5.  Model guludan berorak sebagai sumur resapan.
  1. Parit Bedengan Bersekat
Parit di lahan pertanian juga dapat dijadikan sumur atau tempat resapan air hujan. Agar dapat berfungsi juga untuk meresapkan air hujan, harus dibuat sekat-sekat pada parit-parit tersebut. Dengan demikian, air hujan dapat ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Model ini cocok diterapkan pada lahan kering.
Model parit bersekat
a). pada lahan datar.
Model parit bersekat
b). pada lahan miring.
Gambar 6.  Model parit bersekat.
Pada lahan miring dibuat teras dengan parit bersekat di bawahnya. Kedalaman parit adalah 40-50 cm, sedangkan sekatnya dibuat dengan ketinggian 20-30 cm sehingga air tetap dapat melimpas bila kebanyakan tanpa mengganggu tanaman.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

11 Juli 2012

Sumur Resapan Individual untuk Daerah Pedesaan

[civiliana] - Sumur resapan untuk daerah pedesaan biasanya dibuat lebih sederhana. Seperti yang telah dijelaskan pada awal bahwa pembuatan sumur resapan harus memperhatikan kondisi lingkungan fisik dan sosial ekonomi masyarakat. Dengan demikian, perencanaan pembuatan sumur resapan untuk daerah pedesaan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan pedesaan. Masyarakat pedesaan umumnya memiliki taraf ekonomi dan pendidikan yang rendah. Mayoritas penduduknya bergerak di bidang agraris atau pertanian. Oleh karena itu, sumur resapan untuk daerah pedesaan perlu dibuat sederhana. Bahan-bahan yang dipakai harus murah dan mudah didapat di lokasi sehingga mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat.
Konversi lahan pertanian
Sumur Resapan dari Bambu, sebagai salah satu model Sumur Resapan Individu untuk daerah Pedesaan.
[civiliana] - Sumur resapan untuk daerah pedesaan biasanya dibuat lebih sederhana. Pembuatan sumur resapan harus memperhatikan kondisi lingkungan fisik dan sosial ekonomi masyarakat. Dengan demikian, perencanaan pembuatan sumur resapan untuk daerah pedesaan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan pedesaan.
Masyarakat pedesaan umumnya memiliki taraf ekonomi dan pendidikan yang rendah. Mayoritas penduduknya bergerak di bidang agraris atau pertanian. Oleh karena itu, sumur resapan untuk daerah pedesaan perlu dibuat sederhana. Bahan-bahan yang dipakai harus murah dan mudah didapat di lokasi sehingga mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat.
Desa yang memiliki banyak tanaman bambu dapat mengembangkan model sumur resapan dari bambu yang dianyam. Sementara itu, untuk daerah yang banyak batu-batuan dapat dibuat model sumur resapan dengan bahan kerikil atau batu besar yang dipecahkan.
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan sumur resapan di pedesaan juga tergolong amat sederhana. Alat tersebut antara lain gergaji, golok, palu, ember, ayakan, pasir, kampak, cangkul, linggis, serta sekop.
Model sumur resapan di pedesaan dapat pula dipadukan dengan usaha pertanian. Melalui pola ini dapat dikembangkan konsep usaha tani konservasi yang berfungsi ganda dalam peningkatan hasil pertanian dan dalam rangka konservasi air.
Seperti halnya sumur resapan di daerah perkotaan, sumur resapan pedesaan pun ada yang berupa sumur resapan individu dan sumur resapan kolektif.
Sumur Resapan Pedesaan Individual
Beberapa model sumur resapan individu untuk daerah pedesaan antara lain adalah sumur resapan dari bambu dan sumur resapan dengan lubang kerikil serta lubang resapan biopori (LRB).
  1. Sumur Resapan dari Bambu
Sumur resapan bambu merupakan sumur resapan yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Tata letak sumur resapan bambu secara umum sama dengan sumur resapan individu dari beton yang diterapkan untuk masyarakat perkotaan. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah jaraknya dengan bangunan lain. Misalnya jarak minimal dengan sumur air minum adalah 10 m, dengan pohon 1,5 m, dengan rumah 3 m, dari jalan 1,5 m, dan jauh dari kali.
Konstruksi sumur resapan dari bambu
Gambar 1.  Konstruksi sumur resapan dari bambu.
Konstruksi sumur resapan ini dibuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran dengan diameter 1 m dan tinggi 2 m. Saluran air dibuat dari parit-parit yang diarahkan ke sumur resapan dan dilengkapi dengan saringan sampah serta penyadap lumpur. Untuk keamanan, bagian anyaman ditinggikan 50 cm dari permukaan air tanah dan dilengkapi dengan penutup. Sumur resapan dari bambu ini membutuhkan bahan berupa, bambu tua berukuran besar (diameter 7-10 cm). Selain itu, juga dibutuhkan kerikil 1 m3 untuk sekeliling anyaman bambu.
Langkah-langkah pembuatan sumur resapan dari bambu adalah sebagai berikut.
  1. Buat saluran air hujan ke lokasi yang akan dibuat sumur resapan.
  1. Buat lubang galian berbentuk persegi dengan ukuran 1,2 m x 1,2 m dan kedalaman 2 m.
  1. Buat anyaman dari belahan bambu berbentuk lingkaran yang diameternya 1 m dengan tinggi 2,5 m.
    1. Belah bambu hingga ukuran 2-3 cm, kemudian dihaluskan dan dibuang matanya.
  1. Buat belahan untuk tiang anyaman yang tebalnya 4-5 cm dan panjang 2,5 m sebanyak 8 buah. Buat juga gambar Iingkaran yang berdiameter 1 m di tanah. Kemudian tancapkan 8 bambu tadi pada sisi gambar Iingkaran tersebut.
  1. Anyam bambu hingga mencapai ketinggian 1 m. Bila sudah tidak terjangkau tangan, anyaman bambu dapat diterlentangkan.
  1. Masukkan anyaman ke dalam lubang yang telah dialasi dengan kerikil atau ijuk 50 cm menonjol di permukaan.
  1. Masukkan kerikil atau ijuk di antara bambu dan tanah.
  1. Arahkan saluran ke lubang dan dibuat saringan serta penyadap lumpur dengan menggali lubang kecil. Selain itu, buat juga saluran air pelimpasan yang mengarah ke parit.
  1. Selanjutnya, buat anyaman bambu untuk penutup sumur resapan.
  1. Sumur Resapan dengan Lubang Kerikil
Untuk lokasi yang sulit mendapatkan bambu, tetapi banyak batu atau kerikil dapat dibuat sumur resapan dari kerikil. Kerikil yang digunakan dapat berukuran 2-20 mm. Alternatif lainnya adalah batuan yang besar dipecahkan menjadi ukuran kerikil. Jumlah kerikil yang dibutuhkan sekitar 2 m3.
Cara pembuatan sumur resapan ini seperti model sumur resapan bambu, hanya lubang yang telah dibuat kemudian diisi kerikil. Air dari atap diarahkan menuju sumur resapan tersebut. Cara ini lebih mudah dan sederhana, tetapi daya tampungnya sedikit dan ada kemungkinan tertutupi. Untuk memudahkan dalam pembuatan, di bawah ini diuraikan langkah-langkahnya.
  1. Buat lubang berbentuk persegi dengan panjang 2 m, lebar 1,2 m, serta tinggi 1 m. Kemudian buat guludan di sekeliling sumur.
  1. Masukkan kerikil ke dalam lubang hingga penuh. Bila bercampur dengan pasir halus maka kerikil diayak terlebih dahulu dan yang dipakai adalah bagian kasarnya. Sebaliknya, bila batunya berukuran besar, perlu dipecah terlebih dahulu agar berukuran kecil.
  1. Buat saluran aliran air hujan yang mengarah ke lubang dan saluran limpasannya. Selanjutnya, buat rorak atau lubang penyadap lumpur yang dilengkapi dengan saringan sampah pada saluran air hujan sebelum masuk lubang.
Gambar lengkap dari sumur resapan dengan menggunakan bahan kerikil seperti pada Gambar 2.
Model sumur resapan dengan lubang kerikil
Gambar 2.  Model sumur resapan dengan lubang kerikil.
  1. Lubang Resapan Biopori
Meskipun akhir-akhir ini lebih banyak berkembang di daerah perkotaan, lubang resapan biopori sebenarnya juga dapat dikembangkan sebagai alternatif sumur resapan individual untuk daerah pedesaan. Hal ini disebabkan oleh teknik pembuatannya yang sederhana sesuai dengan prinsip pembuatan sumur resapan untuk daerah pedesaan. Selain itu, pembuatan lubang resapan biopori tidak membutuhkan terlalu banyak bahan dan peralatan.
Kegiatan pertanian masih cenderung mendominasi daerah pedesaan. Oleh karena itu, limbah atau sisa hasil kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk mengisi lubang resapan biopori. Sementara itu, peralatan utama yang dibutuhkan dalam membuat LRB adalah bor tanah atau bor biopori. Untuk menghemat biaya, bor ini dapat dibeli dari iuran warga dan digunakan secara bergantian (misalnya, satu bor untuk satu RT atau RW).
Adapun teknik pembuatan LRB untuk daerah pedesaan sama dengan yang telah dijelaskan sebelumnya pada bab sumur resapan individual untuk daerah perkotaan.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

10 Juli 2012

Sumur Resapan Kolektif untuk Daerah Perkotaan

[civiliana] - Sumur resapan untuk daerah perkotaan, dapat berupa sumur resapan individual dan sumur resapan kolektif. Pada tulisan sebelumnya Sumur Resapan Individual untuk Daerah Perkotaan telah diuraikan mengenai Sumur Resapan dari Tembok, Sumur Resapan dari Hong, Sumur Resapan dari fiberglass dan Lubang Resapan Biopori. Di tulisan ini, [civiliana] akan menguraikan mengenai Sumur Resapan Kolektif untuk Daerah Perkotaan yaitu; Kolam Resapan, Sumur Resapan Dalam, dan Sumur Resapan Parit Berorak.
Kolam resapan yang dipadukan dengan pertamanan
Kolam resapan yang dipadukan dengan pertamanan dapat berfungsi ganda. Selain memiliki nilai estetika, juga berfungsi dalam konservasi udara dan air.
[civiliana] - Sumur resapan untuk daerah perkotaan, dapat berupa sumur resapan individual dan sumur resapan kolektif. Pada tulisan sebelumnya Sumur Resapan Individual untuk Daerah Perkotaan telah diuraikan mengenai Sumur Resapan dari Tembok, Sumur Resapan dari Hong, Sumur Resapan dari fiberglass dan Lubang Resapan Biopori. Di tulisan ini, [civiliana] akan menguraikan mengenai Sumur Resapan Kolektif untuk Daerah Perkotaan yaitu; Kolam Resapan, Sumur Resapan Dalam, dan Sumur Resapan Parit Berorak.
Sumur Resapan Perkotaan Kolektif
Sumur resapan kolektif adalah sumur resapan yang dibangun secara bersama-sama dalam satu kawasan tertentu. Sumur resapan ini dapat dibuat per sepuluh rumah, per blok, satu RT, atau satu kawasan pemukiman. Dengan sumur kolektif ini, biaya per satuan rumahnya akan lebih murah dibandingkan dengan cara individual.
Tabel 1 :
ALTERNATIF MODEL SUMUR RESAPAN KOLEKTIF SESUAI DENGAN KONDISI LINGKUNGAN.
Model Sumur Resapan
yang Diterapkan
Kedalaman
Muka Air Tanah
Ketersediaan
Lahan
Kolam resapan dangkal
dangkal (< 5 m)
luas
Sumur dalam
dalam (> 5 m)
sempit
Parit berorak
dangkal (< 5 m)
sempit
Biaya pembuatan dan pemeliharaan sumur resapan kolektif dapat berasal dari biaya pemerintah, developer, atau swadaya masyarakat. Model-model sumur resapan yang dapat diterapkan tergantung keadaan lingkungan dan ketersediaan tanah di kawasan tersebut. Model yang bisa diterapkan di antaranya kolam resapan, sumur dalam, dan parit berorak. Adapun persyaratan untuk ketiga model tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1.
Seperti halnya pada sumur resapan individual, sumur kolektif juga harus memperhatikan tata letak dan jarak yang baik agar dapat berfungsi secara efektif dan tidak menimbulkan dampak lain. Seperti yang telah disajikan dalam Tabel 1, lokasi yang tepat untuk sumur resapan secara kolektif adalah lokasi yang terendah pada suatu kawasan, dengan demikian air dapat dengan mudah mengalir dari semua tempat dalam kawasan tersebut. Sebagai gambaran dapat dilihat pada Gambar 1.
Besarnya sumur resapan yang direncanakan harus memperhatikan curah hujan, kondisi tanah, dan jumlah kawasan yang airnya mengalir ke sumur resapan. Secara umum volume sumur resapan dapat menggunakan rasio 1 m3 untuk 100 m2 lahan pada curah hujan di bawah 1.000 mm. Dengan demikian, pada kawasan perumahan yang luasnya 1 ha paling tidak dibuat sumur resapan dengan volume 100 m3.
Tata letak lokasi untuk sumur resapan
Gambar 1.  Tata letak lokasi untuk sumur resapan.
  1. Kolam Resapan
Kolam resapan merupakan kolam terbuka di perkotaan yang khusus dibuat untuk menampung air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah. Model resapan ini cocok untuk lahan dengan permukaan air tanah dangkal dan tersedia lahan yang luas.
Model ini dapat dipadukan dengan konsep pertamanan atau konsep hutan kota yang sekarang sedang digalakkan pemerintah dalam rangka penataan lingkungan. Melalui konsep penataan pemukiman ini, kolam resapan akan dapat berfungsi ganda, disamping memiliki nilai estetika juga berfungsi dalam konservasi udara dan air.
Ukuran dan model dari sumur resapan tergantung luas kawasan yang air hujannya akan mengalir ke kolam resapan serta harus memperhatikan kedalaman muka air tanah dan ketersediaan lahan. Untuk kawasan 100 ha, volume sumur resapan minimal 10.000 m3. Bila muka air tanah di bawah 5 m maka dapat dibuat kedalaman 5 m, lebar 40 m, dan panjang 50 m.
Konstruksi kolam resapan yang dipadukan dengan pertamanan
Gambar 2.  Konstruksi kolam resapan yang dipadukan dengan pertamanan.
  1. Sumur Resapan Dalam
Sumur resapan dalam merupakan model resapan air hujan yang cocok untuk lahan-lahan yang muka air tanahnya dalam. Keuntungannya tidak terlalu memerlukan lahan yang luas. Kedalaman sumur resapan ini harus di atas permukaan air tanah yang dapat dilihat pada kedalaman sumur air minum. Sumur dapat dibuat beberapa buah pada kawasan-kawasan tertentu yang jumlah volume keseluruhannya memenuhi standar seperti dikemukakan sebelumnya.
Sumur resapan dalam dapat berbentuk persegi atau lingkaran. Ukuran sumur tergantung pada keadaan muka air tanah. Semakin dalam muka air tanah maka semakin dalam sumur resapannya. Misalnya, dalam satu kawasan 100 ha direncanakan sumur bervolume 10.000 m3. Bila muka air tanah 50 m maka dapat dibuat sumur resapan yang dalamnya 40 m, lebar 5 m, dan panjang 5 m sebanyak 10 buah. Model sumur resapan dalam dapat dilihat pada Gambar 3.
Konstruksi sumur resapan dalam
Gambar 3.  Konstruksi sumur resapan dalam.
  1. Sumur Resapan Parit Berorak
Model sumur resapan parit berorak meresapkan air melalui parit-parit yang di bawahnya diberi sumur-sumur (rorak) penampung air. Dengan demikian, air hujan yang masuk ke dalam parit tidak semuanya mengalir, melainkan tertampung dalam rorak dan dapat meresap ke dalam tanah. Model ini cocok untuk lahan yang tidak luas dan muka air tanah dangkal. Model ini efektif, tetapi memerlukan pengontrolan atau pemeliharaan yang intensif agar tidak tertutup sampah atau lumpur. Setiap parit dilengkapi dengan saringan dan penyadap lumpur yang setiap saat dapat dikeruk.
Konstruksi sumur resapan parit berorak
Gambar 4.  Konstruksi sumur resapan parit berorak.
Rorak dibuat pada dasar parit yang lebarnya berdasarkan lebar parit. Kedalaman rorak antara 1-2 m, jarak antara rorak 5-10 m. Agar rorak tidak longsor, dindingnya harus diberi pasangan tembok yang diberi alas kerikil atau dengan memasang hong yang posisinya tegak atau vertikal.
Air hujan dari perumahan diarahkan ke parit berorak yang sebelum masuk dibuat galian dengan diberi alas dan dinding tembok berkedalaman 50 cm sebagai penyadap lumpur. Galian ini harus dikeruk bila telah penuh. Pada bagian pemasukan ke parit berorak dipasang saringan sampah dari besi. Bila parit tertutup, sebaiknya setiap rorak di atasnya dibuat lubang kontrol yang ukuranya minimal 50 cm x 50 cm sehingga mudah untuk mengeruk lumpur bila rorak telah dangkal.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

09 Juli 2012

Sumur Resapan Individual untuk Daerah Perkotaan

[civiliana] - Daerah perkotaan merupakan daerah yang berpenduduk padat. Lahan yang tertutupi bangunan lebih banyak dibandingkan dengan lahan terbuka. Di samping itu, kebutuhan air tanah untuk keperluan rumah tangga cukup tinggi. Sejalan dengan berkembangnya pemukiman penduduk, peresapan air hujan semakin lama semakin sedikit. Sementara itu, air yang ditarik ke atas permukaan melalui sumur-sumur atau pompa semakin banyak. Wajar saja bila di kota-kota besar seperti Jakarta cenderung terjadi penurunan muka air tanah sehingga air sulit didapat.
Sumur Resapan Individual Perkotaan
Selain dapat menekan terjadinya banjir, sumur resapan ini juga dapat berfungsi untuk menyediakan cadangan air tanah pada musim kemarau.
[civiliana] - Daerah perkotaan merupakan daerah yang berpenduduk padat. Lahan yang tertutupi bangunan lebih banyak dibandingkan dengan lahan terbuka. Di samping itu, kebutuhan air tanah untuk keperluan rumah tangga cukup tinggi. Sejalan dengan berkembangnya pemukiman penduduk, peresapan air hujan semakin lama semakin sedikit. Sementara itu, air yang ditarik ke atas permukaan melalui sumur-sumur atau pompa semakin banyak. Wajar saja bila di kota-kota besar seperti Jakarta cenderung terjadi penurunan muka air tanah sehingga air sulit didapat.
Sumur Resapan Perkotaan Individual
Sumur resapan individual adalah sumur resapan yang dibuat secara pribadi untuk masing-masing rumah. Biaya pembuatan dan pemeliharaan diserahkan kepada pemiliknya.
Tabel 1 :
JARAK MINIMAL SUMUR RESAPAN DENGAN BANGUNAN LAINNYA.
Kondisi yang AdaJarak Minimal
dengan Sumur Resapan (m)
Bangunan3,0
Batas pemilikan1,5
Sumur air minum10,5
Aliran air (sungai)30,0
Pipa air minum3,0
Jalan1,5
Pohon besar3,0
 Sumber : Diolah dari Cotteral dan Norris dalam Kalbermatten et. aL, 1969
Letak sumur resapan harus memperhatikan keadaan lingkungan setempat. Dengan demikian, sumur resapan akan berfungsi dengan baik tanpa menimbulkan dampak baru bagi kepentingan lainnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah jarak dengan bangunan lain seperti septic tank, sumur air minum, jalan, rumah, dan jalan umum. Jarak minimal sumur resapan dengan bangunan lain disajikan pada Tabel 1. Sementara itu, salah satu contoh tata letak sumur resapan individual di perkotaan dapat dilihat pada Gambar 1.
Tata letak sumur resapan individual
Gambar 1.  Tata letak sumur resapan individual.
Volume sumur resapan harus memperhatikan curah hujan, luas lahan rumah, dan kondisi tanah. Pada lahan yang tertutupi banyak bangunan, volume sumur resapan dibuat lebih besar dibandingkan lahan yang terbuka luas. Jenis tanah yang berbeda juga akan mempengaruhi daya resap air sehingga perlu diperhitungkan dalam perencanaan sumur resapan. Pada tanah berpasir, air akan lebih cepat meresap dibandingkan dengan pada tanah liat. Pada tanah liat, waktu tinggal air di dalam sumur resapan lebih lama sehingga volumenya harus lebih besar dibandingkan dengan tanah berpasir. Volume yang umum untuk perumahan yang memiliki luas lahan sekitar 100 m2 dapat membuat sumur resapan yang ukurannya 1 m x 1m x 2 m. Untuk lahan dengan permukaan air dalam, tinggi sumur resapan 2 m, lebar 1 m, dan panjang 1 m. Untuk tanah yang memiliki muka air dangkal, tingginya 1 m, lebar 1 m, dan panjangnya 2 m. Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 2.
Ukuran sumur resapan individual daerah perkotaan
Gambar 2.  Ukuran sumur resapan individual daerah perkotaan.
Pilihan jenis bahan sumur resapan individual yang dapat digunakan untuk daerah perkotaan amatlah banyak. Dinding dapat dibuat dari tembok, hong, atau fiberglass. Saluran air dapat dibuat dari pipa PVC atau pipa besi 6 inci. Bahan peresapan dapat menggunakan tumpukan kerikil (setebal 2-20 mm) atau dari ijuk. Selain itu, lubang resapan biopori (LRB) juga bisa menjadi alternatif sumur resapan individual untuk daerah perkotaan.
  1. Sumur Resapan dari Tembok
  1. Bahan-bahan
  2. 1).Bata merah:320 buah (batu 2 kubik, atau batako besar 70 buah)
    2).Pasir beton:2 kubik
    3).Semen:5 sak
    4).Kerikil:1/2 kubik atau ijuk 2 karung besar
    5).Paralon 6 inci:2 buah
    6).Besi beton:15 m
    7).Kaso:2 batang
  3. Cara pembuatan sumur resapan
    1. Tentukan lokasi yang memenuhi syarat yaitu jaraknya tepat dengan bangunan Iainnya seperti Gambar 1. Selanjutnya, buat lubang galian berukuran 1,5 m x 1,5 m x 2 m.
    1. Masukkan batu kerikil atau ijuk ke dasar sumur sampai ketebalannya 10-20 cm.
    1. Buat pasangan bata yang terletak di tengah atau berjarak 25 cm dari dinding tanah. Kemudian, pasangan bata ditumpangkan pada lapisan kerikil di dasar sumur agar air bisa masuk ke samping. Bila menggunakan ijuk, pasangan menempel pada dasar tanah dengan dibuat lubang-lubang di dasarnya. Pasangan dibuat sampai ketinggian 30 cm dari permukaan tanah.
    1. Tembok yang sudah jadi, selanjutnya diplester dengan semen pada bagian dalamnya. Setelah itu, masukkan kerikil atau ijuk ke sela dinding tanah hingga hampir penuh. Selanjutnya, bagian atasnya ditutup adukan hingga padat.
    1. Saluran air dari talang diarahkan ke sumur resapan dengan pipa yang dilengkapi oleh saringan sampah dan penyadap lumpur pada salah satu ujungnya. Saringan sampah dibuat dari potongan besi beton yang dipotongpotong sepanjang 30 cm, lalu ditancapkan ke ujung pipa pemasukan pada penyadap lumpur. Bagian pipa yang menempel pada sumur resapan diberi adukan semen agar kokoh. Posisi pipa saluran dibuat agak miring ke dalam sumur resapan.
    1. Buat saluran limpasan dengan pipa dari sumur resapan ke saluran pembuangan air atau parit. Beri adukan hingga kuat. Pipa dibuat agak miring ke luar.
    1. Buat bagian penutupnya dengan menggunakan cetakan beton. Caranya adalah sebagai berikut.
      1. Mula-mula buat cetakan tutup dari kayu, panjang dan lebarnya 1,2 m dengan tinggi 5-7 cm.
    1. Buatkan kerangka beton dari besi dan kawat yang dilengkapi tarikan untuk membuka dan menutup sumur, ukuran kerangkanya sedikit lebih kecil dari ukuran cetakan.
    1. Hamparkan kertas semen atau koran pada tanah yang rata, lalu letakkan cetakan dan masukkan kerangka beton ke dalamnya. Buat adukan beton dengan campuran 1 sak semen, 2 sak pasir, dan 1 sak kerikil. Selanjutnya adukan beton tersebut dimasukkan cetakan dan diratakan bagian atasnya. Biarkan hingga kering. Setelah kering, baru diangkat dan ditutupkan ke sumur yang telah jadi.
    1. Sumur resapan sudah siap.
      Bila terletak di taman, sumur resapan bisa dikelilingi atau tanaman. Dengan demikian, keindahan taman tidak akan terganggu.
Konstruksi sumur resapan invidual
Gambar 3.  Konstruksi sumur resapan invidual.
  1. Sumur Resapan dari Hong
  1. Bahan-bahan yang diperlukan
  2. Dinding sumur resapan secara individual dapat dibuat dengan menggunakan 2 buah hong (saluran air besar) yang berdiameter 1 m. Bahan lain yang digunakan adalah sebagai berikut.
    1).Semen:2 sak
    2).Pasir:1/2 kubik
    3).Paralon 6 inci:2 buah
    4).Besi rangka beton:15 m
    5).Kawat beton:secukupnya
  3. Cara pembuatan
    1. Siapkan 2 buah hong yang berdiameter 1 m beserta bahan dan peralatan lainnya. Buatlah lubang pada salah satu hong sebesar 15-16 cm sebagai tempat pemasukan dan limpasan jarak dari atas setinggi
      20 cm.
    1. Galilah lubang ukuran 1,2 m x 1,2 m dengan kedalaman 2 m. Masukkan kerikil atau ijuk (untuk alas dasarnya setinggi 20 cm) ke dalam lubang tersebut.
    1. Masukkan hong yang tidak dilubangi pada galian tersebut kemudian masukkan lagi hong yang satunya. Setelah itu, isi sela antara hong dan dinding galian tanah dengan ijuk atau kerikil hingga penuh.
    1. Pasang pipa untuk pemasukan dan pelimpasan air, lalu beri adukan pada sambungan hong dan pipa. Pemasangan pipa dilakukan dengan cara menggali tanah sedalam 20 cm lalu ditimbun. Saluran pemasukan mengarah ke talang air rumah, sedangkan saluran limpasan mengarah ke parit pembuangan. Kemudian buat tutup sumur seperti pada sumur resapan tembok.
Konstruksi sumur resapan dari hong
Gambar 4.  Konstruksi sumur resapan dari hong.
  1. Sumur Resapan dari Fiberglass
Bahan lain yang dapat dibuat sebagai bahan untuk membuat sumur resapan adalah tangki fiberglass. Volume tangki fiberglass yang dapat dipakai sebagai sumur resapan adalah 2.000 I. Cara pembuatan sumur resapan dengan tangki ini lebih praktis dan tidak perlu lagi membuat tutup karena tangki yang beredar di pasaran sudah ada tutupnya.
  1. Lubang Resapan Biopori
Teknik pembuatannya yang sederhana, membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumur resapan yang dibuat secara individual. Walaupun diameternya cukup kecil bila dibandingkan dengan jenis sumur resapan lainnya, tetapi lokasi lubang tidak boleh dibuat di sembarang tempat. Selain harus indah dilihat, LRB pun harus ditempatkan di lokasi yang dilalui air serta tidak membahayakan bagi manusia dan hewan peliharaan. Beberapa lokasi yang dapat dipilih yaitu di sekeliling pohon, dan tepi taman.
Pada umumnya, bahan yang perlu disiapkan untuk membuat lubang resapan biopori hanya berupa sampah organik (daun/ranting kering) dan air saja. Sementara itu, beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat lubang resapan biopori yaitu bor tanah (bor biopori), pisau/sendok semen, ember, gayung.
Adapun cara pembuatan lubang resapan biopori adalah sebagai berikut.
  1. Siapkan seluruh bahan dan peralatan yang diperlukan serta tentukan lokasi pembuatan LRB. Kemudian sebelum memulai pemboran, siram tanah terlebih dahulu dengan air agar menjadi lunak.
  2. Selanjutnya mulailah membuat lubang dengan menggunakan bor.
  3. Setelah bor masuk sedalam 20 cm atau setelah mata bor terlihat penuh dengan tanah, tarik bor keluar dan bersihkan dengan menggunakan pisau, sepotong kayu/bambu atau sendok semen. Begitu seterusnya sampai kedalaman yang diinginkan, yaitu 100 cm.
  4. Setelah lubang resapan biopori siap, masukkan sampah organik ke dalam lubang sampai penuh. Pengisian sampah jangan terlalu padat agar tidak mengurangi jumlah oksigen di dalam tanah.
Lubang resapan biopori dapat diperkuat dengan memberikan adukan semen pada bagian mulut lubang. Kemudian untuk memperindah LRB, dapat juga ditambahkan hiasan pada permukaan adukan semen, bisa berupa batu hias, batu alam, atau pecahan keramik. Sementara itu, LRB dapat ditutup dengan besi beton atau alat penutup lainnya agar tidak membahayakan bagi yang lalu lalang. Alat penutup yang digunakan harus bisa dilalui air dan cukup kuat menahan beban jika terinjak.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

08 Juli 2012

Perencanaan Pembuatan Sumur Resapan

[civiliana] - Sumur resapan yang dibuat harus memenuhi teknis yang baik agar daya kerjanya dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menimbulkan dampak baru terhadap lingkungan. Model dan ukuran sumur resapan yang digunakan harus memperhatikan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Konstruksi harus terbuat dari bahan yang kuat, tetapi tersedia di lokasi dan mudah didapat. Dengan demikian, masyarakat akan mudah untuk menerapkannya.
Mengenal Sumur Resapan
Sumur resapan yang dibuat harus memenuhi teknis yang baik agar daya kerjanya dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menimbulkan dampak baru terhadap lingkungan.
[civiliana] - Sumur resapan yang dibuat harus memenuhi teknis yang baik agar daya kerjanya dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menimbulkan dampak baru terhadap lingkungan. Model dan ukuran sumur resapan yang digunakan harus memperhatikan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Konstruksi harus terbuat dari bahan yang kuat, tetapi tersedia di lokasi dan mudah didapat. Dengan demikian, masyarakat akan mudah untuk menerapkannya.
Pembuatan sumur resapan harus disadari oleh masyarakat sebagai kebutuhan dan kewajiban demi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kemauan untuk membuat sumur resapan, harus ditempuh melalui pendekatan kebijaksanaan pemerintah. Kebijaksanaan tersebut dengan cara mengeluarkan peraturan atau undang-undang yang mengatur konservasi air tanah melalui sumur resapan.
Penerapannya dapat berupa aturan yang mewajibkan kepada setiap pemilik rumah atau bangunan lainnya untuk memiliki sumur resapan. Hal tersebut misalnya dapat diterapkan dalam pengurusan IMB. Izin mendirikan bangunan (IMB) akan diberikan dengan syarat ada sumur resapan.Terlebih lagi untuk proyek-proyek bangunan besar atau perumahan, setiap developer diwajibkan untuk membuat sumur resapan di kawasan pemukimannya secara kolektif. Dalam hal ini, pemerintah juga dapat menerapkan sanksi-sanksi administratif atau denda kepada developer yang tidak peduli akan kepentingan lingkungan dengan tidak melengkapi kawasannya dengan sumur resapan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumya, keefektifan dari sumur resapan sangat tergantung kepada volume dan jumlah sumur resapan. Oleh karena itu, banyaknya air yang dapat diserap ke dalam tanah tergantung pada banyaknya orang yang sadar dan mau membuat sumur resapan. Hal ini terkait dengan keadaan sosial budaya masyarakat, terutama pengetahuan masyarakat akan pentingnya kelestarian air tanah. Oleh karena itu, program pelestarian air melalui sumur resapan harus pula ditempuh melalui pendekatan sosial budaya masyarakat. Misalnya, dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan, khususnya penerapan sumur resapan, dengan penyuluhan-penyuluhan intensif melalui metode yang sesuai dengan kehidupan masyarakat tersebut.
Faktor-faktor yang Perlu Dipertimbangkan
Dalam rencana pembuatan sumur resapan, perlu diperhitungkan faktor iklim, kondisi air tanah, kondisi tanah, tata guna tanah, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
  1. Faktor iklim
Iklim merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan sumur resapan. Faktor yang perlu mendapat perhatian adalah besarnya curah hujan. Semakin besar curah hujan di suatu wilayah berarti semakin besar atau banyak sumur resapan yang diperlukan. Besarnya curah hujan dapat dibedakan menjadi tiga kelas, yaltu curah hujan rendah (<1.500 mm/tahun), curah hujan sedang (1.500-2500 mm/tahun), dan curah hujan tinggi (>2500 mm/tahun).
  1. Kondisi air tanah
Pada kondisi permukaan air tanah yang dalam, sumur resapan perlu dibuat secara besar-besaran karena tanah benar-benar memerlukan suplai air melalui sumur resapan. Sebaliknya, pada lahan yang muka airnya dangkal, sumur resapan ini kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan baik. Terlebih pada daerah rawa dan pasang surut. Justru daerah tersebut lebih memerlukan saluran drainase.
Tabel 1 :
Jumlah Sumur Resapan Yang Harus Dibuat Berdasarkan Kondisi Permeabilitas dan Luas Bidang Tanah.
NoLuas Bidang Tanah
( m2 )
Jumlah Sumur (buah)
Permeabilitas
sedang
Permeabilitas
agak cepat
Permeabilitas
cepat
80 cm140 cm80 cm140 cm80 cm140 cm
1.201-----
2.301-1---
3.40211---
4.50211-1-
5.60211-1-
6.7031211-
7.8032211-
8.90322121
9.100422121
10.200834232
11.3001257352
12.4001569463
13.50019811574
  1. Kondisi tanah
Keadaan tanah sangat berpengaruh pada besar kecilnya daya resap tanah terhadap air hujan. Dengan demikian, konstruksi dari sumur resapan harus mempertimbangkan sifat fisik tanah. Sifat fisik yang langsung berpengaruh terhadap besarnya infiltrasi (resapan air) adalah tekstur dan pori-pori tanah.
Tanah berpasir dan porus lebih mampu merembeskan air hujan dengan cepat. Akibatnya, waktu yang diperlukan air hujan untuk tinggal dalam sumur resapan relatif singkat dibandingkan dengan tanah yang kandungan liatnya tinggi dan Iekat.Tabel 2 menyajikan hubungan antara beberapa tipe tekstur tanah dengan kecepatan infiltrasi.
Tabel 2 :
Hubungan Kecepatan Infitrasi dan Tekstur Tanah.
Tekstur TanahKeceptan Infiltrasi
( mm per jam )
Kriteria
Pasir Berlempung25 - 50sangat cepat
Lempung12,5 - 25cepat
Lempung berdebu7,5 - 15sedang
Lempung berliat0,5 - 2,5lambat
Liat< 0,5sangat lambat
Sumber : Sitanala Arsyad, 1976
  1. Tata guna tanah ( land use )
taman kota
Taman kota, Memiliki daya serap air yang sangat tinggi, mencapai 95%.
Tata guna tanah akan berpengaruh terhadap persentase air yang meresap ke dalam tanah dengan aliran permukaan. Pada tanah yang banyak tertutup beton bangunan, air hujan yang mengalir di permukaan tanah akan lebih besar dibandingkan dengan air yang meresap ke dalam tanah. Dengan demikian, di lahan yang penduduknya padat, sumur resapan harus dibuat Iebih banyak dan lebih besar volumenya. Hubungan antara tata guna tanah dengan daya resap tanah terhadap air hujan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 :
PERBEDAAN DAYA RESAP TANAH PADA BERBAGAI KONDISI PERMUKAAN TANAH.
No.Tata Guna Tanah
( Land Use )
Daya Serap Tanah
Terhadap Air Hujan (%)
1.Daerah hutan, pekarangan lebat, kebun, ladang berumput80 - 100
2.Daerah taman kota75 - 95
3.Jalan tanah40 - 85
4.Jalan aspal, lantai beton10 - 15
5.Daerah dengan bangunan terpencar30 - 70
6.Daerah pemukiman agak padat5 - 30
7.Daerah pemukiman padat10 - 30
Sumber : Fajar Nadi, 1979
  1. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Perencanaan sumur resapan harus memperhatikan kondisi sosial perekonomian masyarakat. Misalnya, pada kondisi perekonomian yang balk, biaya untuk sumur resapan dapat dibebankan kepada masyarakat dan konstruksinya dapat dibuat dari bahan yang benar-benar kuat. Sebaliknya pada kondisi sosial ekonomi masyarakat rendah, sumur resapan harus terbuat dari bahan-bahan yang murah dan mudah didapat serta konstruksinya sederhana. Selain itu, pendanaan sumur resapan pada daerah minim sebaiknya berupa bantuan dari pemerintah melalui proyek APBD atau APBN.
  1. Ketersedian bahan
Perencanaan konstruksi sumur resapan harus mempertimbangkan ketersediaan bahan-bahan yang ada di lokasi. Misalnya, untuk daerah perkotaan, sumur resapan dapat terbuat dari beton, tangki fiberglass, atau cetakan beton (hong). Sementara untuk daerah pedesaan, sumur resapan yang cocok dikembangkan yaitu dari bambu atau kayu yang tahan lapuk atau bahan lain yang murah dan mudah didapat di lokasi.
Bahan-bahan untuk Sumur Resapan
Sumur resapan dapat dibuat dari berbagai bahan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta ketersediaan bahan baku di lokasi dan ketersediaan dana yang memadai. Bahan-bahan pokok yang dapat dibuat untuk sumur resapan sebagai berikut.
  1. Bahan saluran air dapat menggunakan pipa besi, pipa paralon (PVC), bambu, hong dari tanah atau beton, dan parit-parit galian tanah yang diberi batu
  2. Dinding sumur dapat menggunakan tembok, drum bekas, hong beton, anyaman bambu, atau tangki fiberglass.
  3. Alas sumur dan sela bagian dinding tempat meresapnya air dapat menggunakan bahan kerikil atau ijuk.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

Ads-Banner Side

10 Artikel Populer Minggu Ini :

Ads-Banner Side-2

 

Ads-Banner Footer