Ads-Banner Header

Tampilkan postingan dengan label Jalan dan Jembatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan dan Jembatan. Tampilkan semua postingan

25 Juni 2012

ebook - Jembatan

| Jembatan | Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES, DEA; Agus Setyo Muntohar, ST | BETA Offset | 2007 | Bahasa Indonesia | 231 h | pdf | 14.16 MB | ISBN : 979-8541-17-0 | Menguraikan mengenai Sejarah Jembatan, analisis dan perencanaan beberapa jenis jembatan, mulai dari Jembatan Sederhana sampai dengan jembatan yang cukup rumit seperti Jembatan Gantung, meskipun baru untuk struktur atasnya. Proses Perencanaan Jembatan, Peraturan Pembebanan Jembatan, Jembatan Sederhana, Jembatan Beton Bertulang, Jembatan Beton Prategang, Jembatan Gantung dan Jembatan Cable Stayed. |
ebook - Jembatan
Judul Buku
:
Penulis
:
Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES, DEA
Agus Setyo Muntohar, ST
Penerbit
:
BETA Offset
Tahun
:
2007 (Cetakan ke-4)
Bahasa
:
Bahasa Indonesia
Halaman
:
231 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
14.16 MB
Free download ebook - Jembatan. Buku ini menguraikan mengenai Sejarah Jembatan, analisis dan perencanaan beberapa jenis jembatan, mulai dari Jembatan Sederhana sampai dengan jembatan yang cukup rumit seperti Jembatan Gantung, meskipun baru untuk struktur atasnya. Proses Perencanaan Jembatan, Peraturan Pembebanan Jembatan, Jembatan Sederhana, Jembatan Beton Bertulang, Jembatan Beton Prategang, Jembatan Gantung dan Jembatan Cable Stayed.
DAFTAR ISI
Pengantar
Daftar Isi
1.
Sejarah Jembatan
1.1.
Pendahuluan
1.2.
Perkembangan Tipe Jembatan
1.2.1.
Periode Zaman Purba
1.2.2.
Periode Romawi Kuno
1.2.3.
Zaman Pertengahan
1.2.4.
Zaman Jembatan Besi dan Baja
1.3.
Era Jembatan Gantung
1.4.
Era Jernbatan Cable-Stayed
1.5.
Era Jembatan Beton
1.5.1.
Jembatan Beton Bertulang
1.5.2.
Jembatan Beton Prategang
1.6.
Bentuk dan Tipe Jembatan
1.6.1.
Jembatan Lengkung - Batu (Stone Arch Bridge)
1.6.2.
Jembatan Rangka (Truss Bridge)
1.6.3.
Jembatan Gantung (Suspension Bridge)
1.6.4.
Jembatan Beton (Concrete Bridge)
1.6.5.
Jembatan Haubansl Cable Stayed
2.
PROSES PERENCANAAN JEMBATAN
2.1.
Pendahuluan
2.2.
Tahapan Perencanaan
2.3.
Pemilihan Lokasi Jernbatan
2.3.1.
Aspek Lalu lintas
2.3.2.
Aspek Teknis
2.3.3.
Aspek Estetika
2.4.
Layout Jembatan
2.5.
Pertimbangan Layout Jembatan Melintasi Sungai
2.6.
Penyelidikan Lokasi (Site Investigation)
2.6.1.
Pekerjaan Kantor (Office Work)
2.6.2.
Pekerjaan Lapangan (Field Work)
2.7.
Preliminary Design
3.
PERATURAN PEMBEBANAN JEMBATAN
3.1.
Pendahuluan
3.2.
Data Beban
3.3.
Persyaratan Pelaksanaan
3.3.1.
Beban Primer
3.3.1.1.
Beban Mati
3.3.2.
Beban Hidup
3.3.2.1.
Macam Beban Hidup
3.3.2.2.
Lantai Kendaraan dan Jalur Lalu-lintas
3.3.2.3.
Beban "T"
3.3.2.4.
Beban "D"
3.3.2.5.
Beban pada Trotoir, Kerb dan Sandaran
3.3.3.
Beban Kejut
3.3.4.
Gaya Akibat Tekanan Tanah
3.3.5.
Beban Sekunder
3.3.5.1.
Beban Angin
3.3.5.2.
Gaya Akibat Perbedaan Suhu
3.3.5.3.
Gaya Rangkak dan Susut
3.3.5.4.
Gaya Rem
3.3.5.5.
Gaya Akibat Gempa Burni
3.3.5.6.
Gaya Akibat Gesekan pada Tumpuan-tumpuan Bergerak
3.3.6.
Beban Khusus
3.3.6.1.
Gaya Sentrifugal
3.3.6.2.
Gaya Tumbuk pada Jembatan Layang
3.3.6.3.
Beban dan Gaya Selama Pelaksanaan
3.3.6.4.
Gaya Akibat Aliran Air dan Tumbukan Benda-benda Hanyutan
3.3.6.5.
Gaya Angkat
3.4.
Penyebaran Gaya (Distribusi Beban)
3.4.1.
Beban Mati
3.4.1.1.
Beban Mati Primer
3.4.1.2.
Beban Mati Sekunder
3.4.2.
Beban Hidup
3.4.2.1.
Beban "T"
3.4.2.2.
Beban "D"
3.4.3
Kombinasi Pembebanan
3.5.
Syarat Ruang Bebas
3.5.1.
Profit Ruang Bebas Jembatan
3.5.2.
Tinggi Bebas Minimum
3.5.3.
Ruang Bebas untuk Lalu Lintas di Bawah Jembatan
3.6.
Penggunaan Beban Hidup Tidak Penuh
3.6.1.
Penggunaan Muatan Hidup Tidak Penuh
3.6.2.
Bidang Kontak Roda
4.
JEMBATAN SEDERHANA
4.1.
Pendahuluan
4.2.
Sifat-sifat Jembatan Kayu
4.3.
Bagian-bagian Jembatan
4.3.1.
Balok Lantai Jembatan
4.3.2.
Gelagar (Rasuk)
4.3.3.
Tiang Sandaran dan Trotoar
4.4.
Konstruksi Penghubung Balok Lantai - Rasuk
4.5.
Contoh Analisis Perancangan
5.
JEMBATAN BETON BERTULANG
5.1.
Jembatan Slab Beton Bertulang
5.2.
Jembatan Gelagar Kotak (Box Girder)
5.3.
Jembatan Gelagar-Dek (Deck-Girder)
5.4.
Aplikasi Jembatan Balok Beton Bertulang
5.4.1.
Jembatan Balok-T Jalan Raya
5.4.1.1.
Kondisi Perancangan
5.4.1.2.
Perencanaan
5.4.2.
Jembatan Jalan Rel
5.4.2.1.
Pendahuluan
5.4.2.2.
Peraturan Pembebanan
6.
JEMBATAN BETON PRATEGANG
6.1.
Latar Belakang
6.2.
Prinsip Dasar Prategang
6.2.1.
Definisi
6.2.2.
Konsep Prategang
6.2.3.
Cara Penarikan Baja Prategang
6.3.
Tahap Pembebanan
6.3.1.
Initial Stage
6.3.2.
Final Stage
6.4.
Pendekatan Perancangan
6.4.1.
Perancangan Tegangan Kerja (Working Stress Design / Wsd)
6.4.2.
Perancangan Kuat Batas (Ultimate Strenght Design / Usd)
6.5.
Kehilangan Prategangan
6.6.
Contoh Aplikasi
6.6.1.
Perancangan Awal
6.6.2.
Data dan Sifat Bahan
6.6.3.
Perencanaan Pelat Lantai
6.6.4.
Perancangan Arah A
6.6.5.
Perancangan Arah B
6.6.6.
Perencanaan Pelat Kantilever
6.6.7.
Karakteristik Penampang Gelagar
6.6.8.
Beban Mati
6.6.9.
Beban Hidup
6.6.10.
Penentuan Jalur Tendon
6.6.11.
Perhitungan Momen Pratekan
6.6.12.
Pemilihan Gaya Jacking
6.6.13.
Analisis Kehilangan Tegangan
6.6.14.
Tegangan Pada Saat Transfer
6.6.15.
Perhitungan Kuat Batas
6.6.16.
Perhitungan Geser
6.6.17.
Kontrol Lendutan
6.6.18.
Desain Blok Ujung
6.6.19.
Kontrol Tegangan Akibat Penurunan Pondasi
7.
JEMBATAN GANTUNG
7.1.
Pendahuluan
7.2.
Sistem Kabel
7.2.1.
Bentuk Kabel pada Berbagai Pembebanan
7.2.2.
Kabel Parabola
7.2.3.
Lendutan Kabel
7.3.
Sistem Lantai
7.4.
Jembatan Gantung Tanpa Pengaku
7.4.1.
Tegangan pada Kabel
7.4.2.
Lendutan Akibat Beban Simetris
7.4.3.
Lendutan Berkaitan dengan Panjang Kabel
7.5.
Jembatan Gantung dengan Pengaku
7.5.1.
Tegangan Horisontal (H)
7.5.2.
Harga H pada Beberapa Kasus Pembebanan
7.5.2.1.
Beban Terpusat
7.5.2.2.
Beban Merata
7.5.2.3.
Lendutan pada Stiffening Truss
7.5.2.4.
Straight Backstays
7.6.
Menara (Tower)
7.7.
Kompatibilitas Lendutan Kabel dan Truss
7.8.
Contoh Analisis
8.
JEMBATAN CABLE STAYED
8.1.
Pendahuluan
8.2.
Komponen Jembatan Cable Stayed
8.2.1.
Sistem Kabel
8.2.1.1.
Tatanan Kabel Transversal
8.2.1.2.
Tatanan Kabel Longitudinal
8.2.2.
Menara
8.2.3.
Gelagars
8.2.4.
Susunan Bentang
8.3.
Efek Non-Linier Pada Elemen Struktur
8.3.1.
Non-Linier pada Kabel
8.3.2.
Efek P-Delta
8.3.3.
Non-Linier pada Sifat Material
8.4.
Idealisasi Struktur
8.4.1.
Analisis Frekuensi Alami dan Mode Shape
8.4.2.
Analisis Beban Angin
8.4.3.
Analisis Gempa Dinamik

28 Mei 2012

Modul Pelatihan Geosintetik

Modul Pelatihan Geosintetik
Modul Pelatihan Geosintetik ditujukan untuk membantu memahami Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Perkuatan Tanah dengan Geosintetik No. 003/BM/2009 serta pedoman dan spesifikasi geosintetik untuk filter, separator dan stabilisator.
Modul Pelatihan Geosintetik terdiri dari enam volume yang mencakup topik klasifikasi dan fungsi geosintetik; perkuatan timbunan di atas tanah lunak; perkuatan lereng; dinding tanah yang distabilisasi secara mekanis; geotekstil separator dan stabilisator; dan geotekstil filter.

Download Modul Pelatihan Geosintetik

Volume 1 :
Klasifikasi & Fungsi Geosintetik
(2.4 MB)
Modul Volume 1 ini merupakan pengantar dari modul-modul selanjutnya yang berisi gambaran umum jenis geosintetik, fungsi dan aplikasi geosintetik serta sifat-sifat geosintetik. Pada modul ini, jenis geosintetik diterangkan secara rinci mulai dari segi bentuk fisik, deskripsi polimer pembentuknya hingga proses produksinya. Sehubungan dengan fungsi dan aplikasi geosintetik, modul ini memberikan gambaran konsep dasar untuk mensimulasikan kondisi lapangan ke dalam pengujian laboratorium agar Peserta Pelatihan dapat menentukan jenis pengujian yang dibutuhkan ketika terlibat dalam desain atau konstruksi dengan geosintetik.
Modul ini juga mencakup hal-hal mendasar yang perlu dipahami ketika menangani geosintetik, diantaranya penentuan jumlah benda uji untuk pengendalian mutu di lapangan, serta definisi-definisi penting yang berhubungan dengan variabilitas geosintetik.
Volume 2 :
Perkuatan Timbunan di Atas Tanah Lunak
(1.3 MB)
Modul Volume 2 ini berisi pembahasan mengenai fungsi geosintetik sebagai perkuatan timbunan di atas tanah lunak. Di dalam modul ini dibahas prinsip dasar, fungsi dan aplikasi geosintetik dan pemilihan sifat teknis untuk analisis pada tahap berikutnya. Mekanisme keruntuhan yang terjadi pada timbunan di atas lunak dijelaskan dengan detail disertai dengan ilustrasinya. Pasal analisis dan desain memberikan prosedur desain timbunan, terutama bagaimana cara menentukan besar faktor keamanan timbunan sebelum diperkuat dan setelah diperkuat dengan geosintetik. Pasal pelaksanaan konstruksi disertai dengan pengawasan dan pemantauan instrumen memberikan gambaran umum tahapan konstruksi di lapangan dan instrumen yang dibutuhkan.
Modul volume 2 ini disertai dengan contoh soal sehingga anda dapat menentukan dapat langsung menerapkan langkah-langkah perhitungan yang disampaikan.
Volume 3 :
Perencanaan Geosintetik untuk Perkuatan Lereng
(1.6 MB)
Modul Volume 3 ini merupakan aplikasi dari penggunaan geosintetik sebagai perkuatan lereng yang berisi gambaran umum sifat-sifat teknis tanah dasar, tanah timbunan yang diperkuat, tanah timbunan yang ditahan, sifat-sifat geosintetik, interaksi tanah dan geosintetik dan tahapan perencanaan dan pelaksanaan lereng tanah yang diperkuat. Pada modul ini, tahapan perencanaan lereng tanah yang diperkuat diterangkan secara rinci mulai dari fungsi dan mekanisme perkuatan lereng tanah dengan geosintetik, hingga tahapan perencanaan dan pelaksanaan. Sehubungan dengan fungsi dan aplikasi geosintetik sebagai perkuatan lereng, modul ini memberikan gambaran konsep dasar untuk mensimulasikan tahapan perencanaan agar Peserta Pelatihan dapat menentukan skema perkuatan geosintetik yang dibutuhkan ketika terlibat dalam desain atau konstruksi perkuatan lereng.
Volume 4 :
Perencanaan dan Pelaksanaan Dinding Penahan Tanah yang diperkuat Geosintetik
(2.0 MB)
Modul Volume 4 ini menerangkan secara rinci fungsi dan aplikasi dinding penahan tanah yang diperkuat dengan geosintetik, atau dikenal juga sebagai Mechanically Stabilized Earth Wall (MSEW), tipe-tipe strukturnya serta elemen-elemen utama dinding tersebut. Pada modul ini juga diuraikan jenis-jenis elemen penutup muka (facing) yang umum digunakan untuk melapisi bagian luar dinding penahan tanah dengan disertai oleh ilustrasi gambar. Sehubungan dengan pelaksanaan konstruksi ini di lapangan, modul ini juga memberikan tahapan-tahapan analisis serta konsep desain yang diacu. Modul juga disertai contoh perhitungan agar Peserta Pelatihan dapat menghitung kebutuhan geosintetik sebagai perkuatan dinding.
Pada bagian akhir modul ini dibahas mengenai tahap-tahap pelaksanaan di lapangan serta beberapa ulasan mengenai kontrol kualitas dan monitoring instrumentasi di lapangan setelah konstruksi dibangun.
Volume 5 :
Pedoman Penggunaan Geosintetik untuk Konstruksi Jalan
(2.6 MB)
Modul Volume 5 ini berisi uraian fungsi geosintetik pada konstruksi jalan, sifat-sifat geosintetik yang penting sesuai dengan fungsinya sebagai separator dan stabilisator pada konstruksi jalan tanpa perkerasan, desain geosintetik pada jalan tanpa perkerasan, pengenalan penggunaan paving fabric pada lapis tambah, panduan pemasangan geosintetik, dan spesifikasi geosintetik yang berfungsi sebagai separator dan stabilisator pada konstruksi jalan.
Volume 6 :
Perencanaan Geotekstil Filter untuk Drainase Bawah Permukaan
(1.5 MB)
Modul Volume 6 ini berisi mengenai definisi penyaring (filter), aplikasi, perencanaan, spesifikasi, dan prosedur pelaksanaan.
- Terima Kasih -

19 Mei 2012

Panduan Geoteknik - Timbunan Jalan Pada Tanah Lunak

Seri Buku Panduan Geoteknik ini, terdiri dari 4 buku, yaitu : (1). Panduan Geoteknik 1 : Proses Pembentukan dan Sifat-sifat Dasar Tanah Lunak (2). Panduan Geoteknik 2: Penyelidikan Tanah Lunak - Desain & Pekerjaan Lapangan (3). Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak - Pengujian Laboratorium dan (4). Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi. Dirancang sebagai sebuah studi terhadap tanah lunak dan tanah lapukan tropis Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan panduan geoteknik dan kontruksi yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Diharapkan pula, dengan pengembangan sumber daya manusia dan peralatan yang tepat, dapat meningkatkan kemampuan penelitian dalam bidang geoteknik di Pusat Litbang Prasarana Transportasi. Proyek ini merupakan bagian dari kerangka penelitian pembangunan jalan di atas tanah lunak yang dimulai sejak permulaan tahun 1990.
Panduan Geoteknik-Timbunan Jalan pada Tanah Lunak
Panduan Geoteknik yang dibuat pada proyek Indonesian Geotechnical Materials and Construction (IGMC) ini dirancang sebagai sebuah studi terhadap tanah lunak dan tanah lapukan tropis Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan panduan geoteknik dan kontruksi yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Diharapkan pula, dengan pengembangan sumber daya manusia dan peralatan yang tepat, dapat meningkatkan kemampuan penelitian dalam bidang geoteknik di Pusat Litbang Prasarana Transportasi. Proyek ini merupakan bagian dari kerangka penelitian pembangunan jalan di atas tanah lunak yang dimulai sejak permulaan tahun 1990.
Pelapukan tanah yang terjadi pada kondisi tropis berbeda dengan yang terjadi pada daerah dengan iklim sedang, sehingga masing-masing tipe tanah dengan karakteristik yang berbeda tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda pula dalam mengatasi permasalahan konstruksi. Penerapan berbagai metode penanggulangan yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tidak akan selalu cocok untuk diterapkan pada tanah beriklim tropis. Oleh karenanya perlu dilakukan suatu evaluasi terhadap teknologi yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tersebut sebelum diterapkan di Indonesia dan untuk itu dikembangkan suatu teknologi yang lebih cocok melalui upaya-upaya penelitian setempat.
Penerapan langsung mekanika tanah dan batuan “klasik” yang dikembangkan di daerah beriklim sedang akan tidak serta merta cocok untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di daerah tropis. Sifat-sifat alami dari material bumi daerah tropis memerlukan pengujian dan analisis yang berbeda dengan material di daerah beriklim sedang. Prinsip yang sama berlaku untuk teknik desain dan konstruksi. Oleh karenanya dibutuhkan fasilitas penelitian yang khusus untuk melakukan penyelidikan, bila praktek-praktek desain dan konstruksi yang ada ingin ditingkatkan agar jalan yang dibangun di atas tanah lunak dapat memberikan tingkat paelayanan yang disyaratkan.
Program kegiatan ini dilaksanakan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi bersama Tim Konsultan. Proyek ini seluruhnya didanai oleh pinjaman Pemerintah Indonesia dari International Bank for Reconstruction and Development, Highway Sector Investment Programme 2, Loan Number 3712-IND.

Download Seri Panduan Geoteknik ( Timbunan Jalan pada Tanah Lunak )

1.Panduan Geoteknik 1
Proses Pembentukan dan Sifat-sifat Dasar Tanah Lunak
Ketentuan dan persyaratan dalam proses pembentukan dan sifat-sifat dasar tanah lunak.
Perbedaan tipe-tipe tanah lunak di Indonesia, membuat penilaian awal dimana tanah akan ditemukan, mengidentifikasi keberadaan tanah lunak.

(3,86 MB)
2.Panduan Geoteknik 2
Penyelidikan Tanah Lunak - Desain & Pekerjaan Lapangan
Ketentuan dan persyaratan dalam proses desain dan pekerjaan serta penyelidikan tanah lunak.
Penjelasan studi awal untuk mengumpulkan informasi tanah, menentukan jenis penyelidikan lapangan dan pengujian laboratorium, persyaratan khusus untuk pelaksanaan pekerjaan tanah lunak, prosedur dalam perencanaan di tanah lunak.

(1,64 MB)
3.Panduan Geoteknik 3
Penyelidikan Tanah Lunak - Pengujian Laboratorium
Ketentuan dan persyaratan dalam pengujian laboratorium.
Ceklis untuk evaluasi kemampuan laboratorium pengujian geoteknik, faktor pengaruh dalam perencanaan, prosedur pengujian standar tanah, prosedur untuk mengurangi gangguan contoh tanah.

(2,68 MB)
4.Panduan Geoteknik 4
Desain dan Konstruksi
Persyaratan dan ketentuan dalam proses desain dan pelaksanaan konstruksi.
Metoda untuk menguji keabsahan data penyelidikan, proses pengambilan keputusan, metoda analisis stabilitas tanah, persyaratan dalam penyusunan laporan desain.

(2,33 MB)
Sumber :
NSPM Bintek Ditjen Bina Marga : http://www.bintek-nspm.net
- Terima Kasih -

18 Mei 2012

Seri Buku BMS ( Bridge Management System / Sistem Manajemen Jembatan )

BMS (Bridge Management System)BMS (Bridge Management System) atau Sistem Manajemen Jembatan adalah suatu Pedoman/Panduan dalam mengelola jembatan. Merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia dengan Australian International Development Assistance Bureau. Diterbitkan dalam versi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
BMS dikemas dalam beberapa buku terpisah berdasarkan topik, yang terdiri dari Panduan Prosedur Umum, Panduan Perencanaan dan Program, Standarisasi/Peraturan Perencanaan Jembatan, Manual/Pedoman Perencanaan Jembatan, Panduan Pengawasan Jembatan, Panduan Pemeriksaan Jembatan, Panduan Penyelidikan Jembatan, Panduan Pengelolaan Gudang, serta penggunaan software pendukung.
Untuk mempermudah sahabat, Seri Buku BMS ini kami sajikan dalam bentuk tabel yang dilengkapi dengan keterangan (gambaran umum isi buku) berdasarkan judul.

Daftar Buku BMS (Bridge Management System)

No.JudulKeteranganDownload
1.Bridge Design Code Vol. 1 Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan
( Jilid 1 ).
Menguraikan Persyaratan Umum Perencanaan, Beban Jembatan, Analisa Struktural, Pondasi, Perencanaan Kayu Struktural, Perencanaan Beton Struktural, Perencanaan Baja Struktural, Perletakan dan Hubungan Lantai, dan Penilaian Beban.

(41,21 MB)
2.Bridge Design Code Vol. 2Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan
( Jilid 2 - Lampiran A : Persyaratan Tahan Gempa ).
Menjelaskan persyaratan jembatan terhadap Gempa.
Menguraikan Cara perencanaan, Persyaratan Perencanaan Umum, Persyaratan terperinci untuk Jembatan Tipe A, Persyaratan terperinci untuk Jembatan Tipe B, Persyaratan terperinci untuk Jembatan Tipe C, Kehilangan Kekuatan Tanah - Liquefaction, dan Isolasi dasar dan peredam mekanikal.

(1,94 MB)
3.Bridge Design Manual Vol. 1Panduan Perencanaan Jembatan
( Section 1 s/d. 7 ).
Menguraikan cara perencanaan dan analisa struktur, perencanaan pendahuluan bangunan bawah dan atas pada kondisi statis dan gempa, perencanaan unsur jembatan, perletakan dan hubungan dilatasi, perencanaan pondasi, dinding, dan lereng, dan software pendukung.

(39,89 MB)
4.Bridge Design Manual Vol. 2Panduan Perencanaan Jembatan
( Section 8 s/d. 11, Appendix A )
Menguraikan tentang perencanaan pondasi tiang, perencanaan pondasi langsung dan pondasi sumuran, perencanaan dinding penahan tanah, perencanaan kemantapan lereng, pemrograman struktur rangka, pemrograman struktur tiang, dan pemrograman stabilitas lereng metode bishop.

(25,14 MB)
5.Bridge Construction Techniques ManualElaborates on the Piling techniques, Caisson Installation, Concrete Production, Concrete Construction, Steel Superstructure Erection Techniques, Bearings and Joints, Waterway and Emabankment Protection, and Road Approaches.
(7,69 MB)
6.Bridge Investigation ManualElaborates on the Site Surveys, Site Selection, Hydrology, Hydraulics, Scour Prediction, Scour Protection, Methods of Soil Exploration, Field Testing, Laboratory Testing, and Derivation of Design Parameters.
(9,42 MB)
7.Panduan Penyelidikan JembatanMenguraikan pendahuluan, umum, survei daerah jembatan, dan pemilihan lokasi jembatan. Bab penyelidikan air membahas mengenai hidrologi, hidrolika, peramalan gerusan, dan perlindungan terhadap gerusan. Penyelidikan tanah membahas mengenai cara eksplorasi tanah, pengujian lapangan, pengujian laboratorium, dan penurunan parameter rencana.
(11,07 MB)
8.Panduan Pemeriksaan JembatanMenguraikan tentang Prosedur Pemeriksaan Jembatan, Elemen Jembatan dan Kerusakannya, serta Lampiran-lampiran yang terdiri dari Laporan Pemeriksaan Jembatan - Laporan IBMS, Petunjuk untuk Menilai Struktur dan Tingkat Kerusakan, dan Standar Bangunan Atas Jembatan.
(11,83 MB)
9.IBMS General Procedures ManualElaborates on the Overview of BMS and General Procedures of The BMS.
(287,9 KB)
10.Panduan Prosedur Umum IBMS Terdiri dari 4 bagian, yaitu pengenalan panduan, pandangan umum SMJ, prosedur umum untuk pelaksanaan semua aktivitas SMJ, dan lampiran yang memberikan keterangan terkait bahwa bukan bagian prosedur.
(264,2 KB)
11.IBMS Management Information System ManualElaborates on the Plannin and Programming Overview, IBMS Features, Menu System, Data Entry, Inspection Programs, Planning, Programming, Monitoring, Database Utilities, Graphics System, Reporting, and Installing The IBMS.
(3,56 MB)
12.Panduan Sistem Informasi Manajemen IBMSMenguraikan tentang Gambaran Sekilas tentang Rencana dan Program, Kemampuan-kemampuan IBMS, Sistem Menu, Pemasukan Data, Program Inspeksi, Rencana, Program, Monitoring, Utilitas Database, Sistem Grafik, Laporan, dan Pemasangan dan Pembaharuan IBMS.
(3,15 MB)
13.IBMS Planning and programing ManualElaborates on the Policy Framework, Data Management, Planning, Preparation of Treatment Strategies, Programming and Monitoring and Work Completion.
(2,77 MB)
14.Panduan Rencana dan Program IBMS Memuat bagian umum, bagian prosedur rencana dan program, dan lampiran.
(3,51 MB)
15.Panduan Pengawasan Pelaksanaan JembatanMenguraikan tentang Hal-hal Yang Berhubungan dengan Administrasi dan Prosedur, Aspek Teknis Pengawasan Pelaksanaan serta Lampiran yang terdiri dari Formulir-formulir Standar untuk Pelaksanaan Pengawasan Jembatan (Administrasi dan Teknis).
(4,75 MB)
16.Pedoman Manajemen GudangMenguraikan tentang Sarana Pergudangan, Pengadaan Material, Penerimaan Material, Penyimpanan Material, Mengeluarkan dan Mengirim Material, dan Pengendalian Inventaris.
(4,96 MB)
Sumber :
Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum RI : http://binamarga.pu.go.id
NSPM Bintek Ditjen Bina Marga : http://www.bintek-nspm.net
- Terima Kasih -

13 Mei 2012

CSi Bridge v 15.0 [ Full ]

CSi_Bridge_v_15.0Free Download CSi Bridge v 15.0 [Full ] - CSiBridge merupakan software yang dapat digunakan untuk melakukan pemodelan, analisis dan desain struktur jembatan. Dengan CSiBridge, engineers dapat dengan mudah menentukan geometri jembatan, syarat batas dan load cases. Model jembatan didefinisikan parametrically, menggunakan istilah yang akrab bagi engineers seperti layout lines, spans, bearings, abutments, bents, hinges dan post-tensioning.
CSiBridge desain memungkinkan desain dengan cepat dan mudah dan penyesuaian baja dan beton jembatan. Modeler parametrik memungkinkan pengguna untuk membangun model jembatan sederhana atau rumit dan untuk membuat perubahan yang efisien sambil mempertahankan total kontrol atas proses desain. Jalur kendaraan dapat didefinisikan dengan cepat dan termasuk lebar efek. Bagan Gantt sederhana dan praktis tersedia untuk mensimulasikan pemodelan urutan konstruksi dan penjadwalan.
Terintegrasi sepenuhnya dalam paket CSiBridge desain adalah keunggulan mesin analisis SAPFire ®, termasuk staged construction, penyusutan dan analisis creep, kabel tensioning, camber dan bentuk, geometri non-linear (P-delta dan perpindahan besar), materi non-linear (superstruktur, bantalan, substruktur dan daya dukung tanah), Tekuk dan analisis statis dan dinamis. Semua ini berlaku untuk model komprehensif tunggal. Selain itu, AASHTO LRFD desain disertakan dengan kombinasi otomatis beban, superstruktur desain dan desain seismik terbaru.
System Requirements
Processor :
  • Minimum: Intel Pentium 4 or AMD Athlon 64.
  • Recommended: Intel Core 2 Duo, AMD Athlon 64 X2, or better.
  • A CPU that has SSE2 support is required.
  • The SAPFire® Analytical Engine includes a multi-threaded solver that can take advantage of multi-core CPUs.
Operating System :
  • Microsoft® Windows XP with Service Pack 2 or later, Microsoft® Windows Vista, or Microsoft® Windows 7, 32- and 64-bit versions.
  • With a 64 bit operating system, the SAPFire® Analytical Engine can utilize more than 4 GB of RAM, making it possible to more efficiently solve larger problems.
Memory :
  • Minimum: 2 GB for XP O/S, 4 GB for Vista/Windows 7 O/S.
  • Recommended: 4 GB for 32-bit O/S, 8 GB or more for 64-bit O/S.
  • The problem size that can be solved & the solution speed increases considerably with more RAM.
  • Vista/Windows 7 requires more RAM than XP for the operating system itself.
Disk Space :
  • 6 GB to install the program.
  • Recommended: 500GB or larger Hard Disk Drive (7200 rpm SATA).
  • Additional space required for running and storing model files and analysis results, dependent upon the size of the models.
Video Card :
  • Minimum: Supporting 1024 by 768 resolution and 16 bits colors for standard (GDI+) graphics mode.
  • Recommended: Discrete video card with NVIDIA GPU or equivalent and dedicated graphics RAM (512 Mb or larger) for DirectX graphics mode. The card must be DirectX 9.0c compatible (DirectX SDK Aug 2009 - Build 9.27.1734.0).
  • DirectX graphics mode fully utilizes the hardware acceleration provided by a GPU and dedicated graphics RAM.
  • For better graphics quality in terms of anti-aliasing and line thickness, the device raster drawing capabilities should support legacy depth bias.
Official Site : www.csiberkeley.com
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )

02 April 2012

Spesifikasi Umum 2010 revisi (1) Tahun 2011 dan Spesifikasi Khusus 2012

spesifikasi umum 2010 revisi (1) tahun 2011 Nama Dokumen:Spesifikasi Umum 2010 revisi (1) Tahun 2011
Penerbit:KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
Direktorat Jenderal Bina Marga
Tahun:2012
Bahasa:Indonesia
Halaman:-
Format File:pdf
Ukuran File: -

06 Maret 2012

Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B

Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B, Nomor : 07/BM/2005 | Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga | 2005 | 180 h | pdf | 10.1 MB | Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B, diharapkan dapat memberikan petunjuk kepada para pelaksana dilapangan dalam menilai kualitas dari rangka baja yang mereka terima sehingga tidak menyalahi spesifikasi yang telah ditentukan. Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B, ini dibuat untuk mengurangi kesalahan yang timbul pada pelaksanaan konstruksi jembatan yang sering terjadi.
Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B
Judul Buku
:
Pedoman Gambar Standar Rangka Baja Bangunan Atas Kelas A dan B
Nomor : 07 / BM / 2005
Penerbit
:
Kementerian Pekerjaan Umum
Direktorat Jenderal Bina Marga
Tahun
:
2005
Halaman
:
180 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
10.1 MB
Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B ini dibuat untuk mengurangi kesalahan yang timbul pada pelaksanaan konstruksi jembatan yang sering terjadi.
Standar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B diharapkan dapat memberikan petunjuk kepada para pelaksana dilapangan dalam menilai kualitas dari rangka baja yang mereka terima sehingga tidak menyalahi spesifikasi yang telah ditentukan.
SemogaStandar Rangka Baja Bangunan Atas Jembatan Kelas A dan B ini bermanfaat bagi pelaksana konstruksi jembatan dan masukan maupun pengembangan pedoman ini masih diharapkan.

29 Februari 2012

Spesifikasi Khusus BINA MARGA

Judul Dokumen : Spesifikasi Khusus BINA MARGA
Penerbit : KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM


Direktorat Jenderal Bina Marga
Tahun : -
Format File : pdf, xls, doc
Jlh. Halaman : -
Ukuran File : -

24 Februari 2012

Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi

Timbunan Jalan pada Tanah Lunak, No : Pt T-10-2002-B (Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi) | Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah | 2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia) | 206 h | pdf | 2.33 MB | Panduan ini merumuskan: (a). Metode-metode yang harus diterapkan untuk menguji keabsahan data penyelidikan, (b). Prosedur untuk mendapatkan parameter-parameter, (c). Proses pengambilan keputusan dalam memilih teknik dan metode yang efektif dan memuaskan, (d). Metode-metode yang akan digunakan dalam menganalisis stabilitas dan prilaku penurunan jalan, (e). Persyaratan-persyaratan dalam penyusunan laporan desain, penyiapan kesimpulan-kesimpulan dan bagaimana kesimpulan tersebut dapat dicapai, (f). Ceklis untuk meyakinkan bahwa semua prosedur dalam Panduan ini telah dilaksanakan, (g). Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika rekomendasi-rekomendasi tidak dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah diberikan dalam Panduan ini.
Panduan Geoteknik 4 ( Desain dan Konstruksi )
Judul Dokumen
:
Timbunan Jalan pada Tanah Lunak
No : Pt T-10-2002-B
Panduan Geoteknik 4 : Desain dan Konstruksi
Penerbit
:
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Tahun
:
2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia)
Halaman
:
206 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
2.33 MB

Tujuan Dari Panduan Geoteknik 4

Panduan ini merumuskan:
  • Metode-metode yang harus diterapkan untuk menguji keabsahan data penyelidikan,
  • Prosedur untuk mendapatkan parameter-parameter,
  • Proses pengambilan keputusan dalam memilih teknik dan metode yang efektif dan memuaskan,
  • Metode-metode yang akan digunakan dalam menganalisis stabilitas dan prilaku penurunan jalan,
  • Persyaratan-persyaratan dalam penyusunan laporan desain, penyiapan kesimpulan-kesimpulan dan bagaimana kesimpulan tersebut dapat dicapai,
  • Ceklis untuk meyakinkan bahwa semua prosedur dalam Panduan ini telah dilaksanakan,
  • Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika rekomendasi-rekomendasi tidak dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah diberikan dalam Panduan ini.

Batasan Dari Panduan Geoteknik 4

Panduan Geoteknik ini memberikan informasi dan petunjuk dalam desain dan pelaksanaan konstruksi jalan di atas tanah lunak. Panduan ini mengidentifikasikan berbagai solusi yang mungkin untuk berbagai kondisi yang berbeda, serta mengemukakan secara umum kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karenanya, Panduan ini memberikan metodologi untuk memilih desain yang paling cocok, dan menjelaskan bagaimana caranya Ahli Geoteknik yang Ditunjuk mengembangkan dan mencatat proses pengambilan keputusannya.
Petunjuk yang diberikan pada Panduan ini juga harus digunakan untuk timbunan oprit jembatan.
Panduan ini tidak membahas masalah yang menyangkut struktur, kecuali beberapa aspek dari interaksi tanah-struktur (soil-structure interaction), atau masalah perkerasan jalan pada tanah lunak. Meskipun demikian, beberapa petunjuk yang diberikan pada Panduan ini dan seri lainnya mungkin akan dapat membantu untuk maksud tersebut.
DAFTAR ISI
Prakata
Daftar Isi
1
Pendahuluan Panduan Geoteknik 4
1.1
Batasan dari Panduan
1.2
Struktur Manajemen untuk Pekerjaan Geoteknik
1.3
Pendekatan terhadap Desain Pekerjaan Geoteknik
1.4
Permasalahan
1.5
Solusi atau Pemecahan Masalah
2
Pertimbangan Menyeluruh dalam Desain
2.1
Umum
3
Solusi dengan Pekerjaan Tanah
3.1
Pendahuluan
3.2
Penggantian Material
3.3
Berem Pratibobot
3.4
Penambahan Beban
3.5
Konstruksi Bertahap
3.6
Penggunaan Material Ringan
4
Solusi dengan Perbaikan Tanah
4.1
Pendahuluan
4.2
Penyalir Vertikal
4.3
Tiang
4.4
Matras
4.5
Metode Perbaikan Tanah Lainnya
5
Persiapan Desain
5.1
Interpretasi Geologi
5.2
Zonasi Lokasi
5.3
Pemilihan Parameter Geoteknik
5.4
Parameter Material Timbunan
5.5
Pembebanan dan Kriteria Desain
6
Solusi Desain dan Analisis
6.1
Pendahuluan
6.2
Stabilitas Timbunan
6.3
Penurunan pada Timbunan
6.4
Penyalir Horisontal
6.5
Penggantian
6.6
Berem Pratibobot
6.7
Penambahan Beban
6.8
Konstruksi Bertahap
6.9
Timbunan dengan Perkuatan
6.10
Matras Bertiang
6.11
Penyalir Vertikal
6.12
Desain Tiang
7
Interaksi Tanah dan Bangunan
8
Pertimbangan untuk Pelebaran Jalan
9
Proses Pengambilan Keputusan
9.1
Pengantar
9.2
Mengidentifikasi Masalah yang harus Dipecahkan
9.3
Mengidentifikasi Faktor-FAKTOR yang Akan Mempengaruhi Proses Pengambilan Keputusan
9.4
Pemilihan dan Analisis atas Berbagai Pilihan
9.5
Mengidentifikasi Biaya untuk Setiap Pilihan
9.6
Penetapan Pilihan Terbaik
9.7
Pelaporan Proses Pengambilan Keputusan dan Rekomendasi
10
Laporan Desain
11
Uji Coba
12
Kontrak dan Pelaksanan
12.1
Pengadaan Kontrak
12.2
Pelaksanaan
13
Pemantauan Lapangan
13.1
Merencanakan Program Pemantauan dan Instrumentasi
13.2
Desain Timbunan
13.3
Kondisi Lapisan Bawah Permukaan
13.4
Pra Analisis
13.5
Jumlah Instrumentasi
13.6
Lokasi Instrumen
13.7
Pemasangan
13.8
Perlindungan
13.9
Prosedur dan Frekuensi Pemantauan
13.10
Catatan Penimbunan
13.11
Pelat Penurunan
13.12
Instrumentasi Khusus
14
Referensi
Lampiran

19 Februari 2012

Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium

Timbunan Jalan pada Tanah Lunak, No: Pt T-8-2002-B (Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium) | Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah | 2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia) | 161 h | pdf | 2.68 MB | Panduan ini merumuskan: (a). Ceklis untuk mengevaluasi kemampuan laboratorium pengujian geoteknik dan kriteria pemilihan laboratorium, (b). Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan dan pengembangan program pengujian laboratorium, (c). Rangkuman prosedur pengujian standar terutama acuan pengujian lempung organik lunak dan gambut serta interpretasi hasil pengujiannya, (d). Prosedur untuk mengurangi sekecil mungkin gangguan pada contoh tanah selama penanganan dan penyiapan benda uji; interpretasi data pengujian untuk mengevaluasi kualitas contoh, (e). Prosedur untuk mengidentifikasi dan menjelaskan struktur dan fabrik tanah, (f). Persyaratan-persyaratan pelaporan.
Panduan Geoteknik 3 ( Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium )
Judul Dokumen
:
Timbunan Jalan pada Tanah Lunak
No : Pt M-01-2002-B
Panduan Geoteknik 3 : Penyelidikan Tanah Lunak Pengujian Laboratorium
Penerbit
:
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Tahun
:
2002 (Edisi Pertama Bahasa Indonesia)
Halaman
:
161 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
2.68 MB

Tujuan Dari Panduan Geoteknik 3

Panduan ini merumuskan:
  • Ceklis untuk mengevaluasi kemampuan laboratorium pengujian geoteknik dan kriteria pemilihan laboratorium,
  • Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan dan pengembangan program pengujian laboratorium,
  • Rangkuman prosedur pengujian standar terutama acuan pengujian lempung organik lunak dan gambut serta interpretasi hasil pengujiannya,
  • Prosedur untuk mengurangi sekecil mungkin gangguan pada contoh tanah selama penanganan dan penyiapan benda uji; interpretasi data pengujian untuk mengevaluasi kualitas contoh,
  • Prosedur untuk mengidentifikasi dan menjelaskan struktur dan fabrik tanah,
  • Persyaratan-persyaratan pelaporan.

Batasan Dari Panduan Geoteknik 3

Panduan Geoteknik 3 ini membahas tentang uji yang dilaksanakan di laboratorium untuk keperluan evaluasi terhadap stabilitas, daya dukung dan penurunan dari konstruksi jalan yang dibangun di atas tanah lunak. Dalam Panduan Geoteknik ini juga diuraikan mengenai lempung inorganik dan lempung organik, gambut, dan penekanan khusus diberikan untuk tindakan pencegahan yang harus diambil ketika melakukan pengujian terhadap lempung organik dan gambut serta interpretasi terhadap data yang dihasilkannya. Sedangkan uji untuk material timbunan yang dipadatkan (misalnya untuk mendapatkan nilai maksimum dari kepadatan kering, dan nilai CBR, tidak akan dibahas dalam panduan ini.
Supaya hasil uji laboratorium dapat digunakan, maka penting untukdiperhatikan bahwa laboratorium yang dipilih untuk melakukan uji tersebut harus memiliki kemampuan dan kapasitas yang diiginkan, khususnya dengan memperhatikan sistem pengendalian mutunya. Bab 2 dari Panduan Geoteknik ini menjelaskan secara detil prosedur yang harus ditempuh untuk menilai dan menentukan kelas atau tingkatan dari sebuah laboratorium, dilihat dari tingkat kemampuannya melakukan suatu pengujian.
Perencanaan penyelidikan tanah membutuhkan koordinasi dan kesatuan antara kegiatan lapangan dan laboratorium itu sendiri, dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan biaya seminimal mungkin. Bab 3 dari Panduan Geoteknik ini membahas tentang perencanaan program pengujian laboratorium dan pemeriksaan faktor-faktor yang mempengaruhi batasan dari program tersebut.
Dijelaskan pada Bab 4 dari Panduan Geoteknik ini, sistem yang digunakan untuk mengklasifikasi tanah organik dan inorganik berbutir halus serta gambut; jenis pengujian yang harus dilakukan untuk mengklasifikasikan tanah, dan untuk mendapatkan karakteristik kuat geser, kompresibilitas dan permeabilitasnya juga dijelaskan. Jenis tanah tersebut umumnya diuji dengan metode uji standar sebagaimana tercantum dalam Lampiran A. Adalah merupakan hal yang penting bagi seorang Ahli Geoteknik yang Ditunjuk untuk merumuskan secara jelas program pengujian yang akan dilakukan terhadap contoh tanah, serta parameter uji apa yang akan digunakan; sebuah contoh mengenai hal ini diberikan dalam bentuk sebuah prosedur.
Bab 5 dari Panduan Geoteknik ini menguraikan mengenai gangguan atau kerusakan yang terjadi pada contoh tanah, dan konsekuensi akan kemungkinan terjadinya penurunan kualitas yang terjadi di laboratorium selama proses penanganan contoh dan persiapan pengujian spesimen; tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk memperkecil gangguan yang timbul juga dibahas. Prosedur yang dikeluarkan oleh Masyarakat Internasional untuk Mekanikan Tanah dan Teknik Fondasi (International Society for Soil Mechanics and Foundation Engineering, ISSMFE, 1981) untuk mengevaluasi kualitas relatif dari sampel berdasarkan pada interpretasi dari hasil pengujian memberikan detil tahapan kegiatan yang harus dilakukan.
Bab 6 dari Panduan Geoteknik ini menguraikan fabrik dan struktur tanah. Prosedur ASTM menjelaskan secara detil bagaimana caranya mengidentifikasi tanah yang dapat digunakan baik untuk di lapangan maupun di laboratorium. Analisis terhadap makrofabrik tanah, dengan menggunakan metode yang diusulkan oleh Mc Gown dan Jarrett (1997a) juga dibahas, yang meliputi prosedur laboratorium untuk pemotretan dan pelaksanaan dari pemeriksaan makfrofabrik tersebut.
Bagian akhir dari Panduan Geoteknik ini membicarakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaporan hasil dari pengujian laboratorium tersebut.
DAFTAR ISI
Prakata
Daftar Isi
1
Pendahuluan Panduan Geoteknik 3
1.1
Batasan dari Panduan
2
Kriteria untuk Pemilihan Laboratorium
2.1
Pendahuluan
2.2
Akreditasi Laboratorium di Indonesia
2.3
Persyaratan Umum untuk Laboratorium Pengujian Tanah
2.4
Evaluasi Kemampuan Laboratorium Menurut ASTM D3740-92
2.4.1
Organisasi dari Laboratorium
2.4.2
Sumber Daya Manusia dari Laboratorium
2.4.3
Kualifikasi Personil
2.4.4
Verifikasi terhadap Kemampuan
2.4.5
Persyaratan Pengujian
2.4.6
Persyaratan Tambahan untuk Peralatan Pengujian
2.4.7
Persyaratan Sistem Mutu
2.4.8
Persyaratan Pencatatan dan Pelaporan
2.5
Kriteria untuk Mengevaluasi Laboratorium
2.5.1
Informasi Umum yang Dibutuhkan pada Tahap Awal dari Evaluasi Laboratorium
2.5.2
Pemeriksaan Fasilitas Laboratorium oleh Ahli Geoteknik yang Ditunjuk
2.6
Pemeringkatan Kemampuan Pengujian Laboratorium
2.7
Pengendalian Mutu
2.7.1
Urutan Penanganan Contoh Tanah
3
Perencanaan Program Pengujian Laboratorium
3.1
Pendahuluan
3.2
Pengembangan Program Pengujian Awal Laboratorium
4
Pengujian Laboratorium
4.1
Klasifikasi Tanah
4.1.1
Klasifikasi Lempung Organik dan Inorganik
4.1.2
Klasifikasi Gambut
4.2
Pengujian Indeks yang Dilakukan untuk Tujuan Klasifikasi dan Tujuan Lainnya
4.2.1
Kadar Air Asli
4.2.2
Pembagian Ukuran Butir
4.2.3
Berat Jenis
4.2.4
Kepadatan Curah
4.2.5
Bata-batas Konsistensi (Atterberg)
4.2.6
Uji Geser Baling Laboratorium
4.2.7
Kadar Organik Gambut dan Tanah Organik Lainnya
4.2.8
Kepadatan Curah Gambut
4.2.9
Kadar Serat Gambut
4.2.10
Ekstraksi Air Pori dan Pengukuran Salinitas
4.2.11
Konduktivitas
4.2.12
pH Bahan Gambut
4.2.13
pH Tanah
4.2.14
Kadar Karbonat
4.2.15
Kadar Klorida
4.2.16
Kadar Sulfat
4.3
Pengujian Kuat Geser
4.3.1
Uji Geser Langsung
4.3.2
Uji Tekan Triaksial
4.3.3
Diskusi mengenai Pengujian Laboratorium untuk Menentukan Kuat Geser Tanah Organik dan Gambut
4.4
Pengujian Konsolidasi
4.4.1
Uji Konsolidasi Satu Dimensi
4.4.2
Penentuan Sifat Konsolidasi Menggunakan Sel Hidrolik
4.4.3
Diskusi Mengenai Uji Laboratorium untuk Menentukan Karakteristik Konsolidasi Tanah Organik dan Gambut
4.5
Uji Permeabilitas
4.6
Spesifikasi Program dan Parameter Pengujian Laboratorium
4.6.1
Program Pengujian Laboratorium
4.6.2
Parameter Pengujian Laboratorium
4.7
Konsistensi Data
5
Kualitas dan Kerusakan Contoh Tanah
5.1
Pendahuluan
5.2
Prosedur Laboratorium untuk Memperkecil Gangguan Pada Tanah
5.2.1
Penyimpanan Contoh Tanah
5.2.2
Penanganan Contoh Tanah dan Persiapan Benda Uji untuk Pengujian
5.3
Evaluasi Terhadap Tingkat Gangguan Pada Contoh Tanah
5.3.1
Tegangan-Regangan Tak Terdrainase dan Prilaku Kuat Geser
5.3.2
Kurva Konsolidasi Satu Dimensi
5.3.3
Tegangan Efektif Residual
5.3.4
Penilaian Kualitas Contoh Tanah
6
Struktur dan Fabrik Tanah
6.1
Definisi 95
6.2
Pemeriaan dan Identifikasi Tanah
6.3
Prosedur Penampangan dan Analisis Fabrik
6.3.1
Identifikasi dan Klasifikasi dari Fitur Fabrik
6.3.2
Prosedur Laboratorium
7
Pelaporan
7.1
Persyaratan Khusus
7.2
Persyaratan Umum
7.3
Laporan Laboratorium
8
Referensi
Lampiran

Ads-Banner Side

10 Artikel Populer Minggu Ini :

Ads-Banner Side-2

 

Ads-Banner Footer